sini biar kubantu cari

AWAS!!! BAHAYA LATEN INTERNET BAGI OTAK ANDA// AWAS!!! BAHAYA LATEN INTERNET BAGI OTAK ANDA// AWAS!!! BAHAYA LATEN INTERNET BAGI OTAK ANDA// AWAS!!! BAHAYA LATEN INTERNET BAGI OTAK ANDA// AWAS!!! BAHAYA LATEN INTERNET BAGI OTAK ANDA// AWAS!!! BAHAYA LATEN INTERNET BAGI OTAK ANDA// AWAS!!! BAHAYA LATEN INTERNET BAGI OTAK ANDA//

05 Januari 2009

Pry Pindah Rumah

Update: November 2013
Pry mulai ngeblog lagi di alamat 

http://blog.pryspry.com

Tema baru, wacana baru, semangat baru.
Mampir-mampir lah ya
:)

------------------------------------------------------------------------------------------
 Di tahun 2009 ini, pry resmi pindah rumah.
Untuk korespondensi dan segala kegiatan yang berhubungan dengan blog ini, bakal dihijrahkan ke link berikut ini:

http://prys.ilovebogor.com


terima kasih sebelumnya, buat kunjungan, dukungan, kritik dan saran.
semoga kita bisa terus menjalin persohiblogan ini dengan hangat.
salam..




Photobucket


Baca Selengkapnya..

16 Desember 2008

Sekedar Catatan Akhir Tahun

Photobucket

Ekonomi Kreatif sebagai Industri Budaya
Menjanjikan di Masa Depan

oleh Pry S.


Ada kejadian yang tak biasa pada 10 – 12 Desember kemarin di kota Bogor. Sekitar 500 budayawan dan seniman dari seluruh Indonesia ujug-ujug kumpul di Hotel Salak Bogor. Hadir pula sejumlah pemimpin media massa, aktivis LSM serta para pejabat tinggi republik semisal Menko Kesra Aburizal Bakrie dan Menteri Kebudayaan dan Pariwista Jero Wacik. Ada apa rupanya?

Ternyata di tempat inilah, Kongres Kebudayaan Indonesia 2008 digelar dengan mengusung tema ‘Kebudayaan untuk Kemajuan dan Perdamaian Menuju Kesejahteraan’. Tak kurang dari 16 tema dibahas pada acara tersebut, antara lain kebijakan dan strategi kebudayaan, film dan seni media, warisan budaya, sastra, hak atas kekayaan intelektual (HAKI), pendidikan, media massa, seni pertunjukan, ekonomi kreatif dan industri budaya.

Sungguh-sungguh sebuah hajat istimewa, dan patut dibanggakan bahwa Kota Bogor kita yang tercinta ini berkesempatan menjadi tuan rumah Kongres Kebudayaan Indonesia kali ini.

Yang justru menarik adalah wacana yang didiskusikan pada acara itu, yakni bagaimana menempatkan budaya sebagai ‘mata uang’ baru dan deposit tambang potensial demi kesejahteraan bangsa Indonesia.

Lebih menarik lagi ketika terungkap bahwa pemerintah juga telah meluncurkan cetak biru (blue print) ekonomi kreatif Indonesia sampai tahun 2030.

Yakni sebuah konsep ekonomi baru yang berorientasi pada kreativitas budaya, serta warisan budaya dan lingkungan. Cetak biru tersebut akan memberi acuan bagi tercapainya visi dan misi industri kreatif Indonesia 30 tahun ke depan.

Tak Sekedar Retorika
Bagi kebanyakan kita, gagasan di atas mungkin bakal terkesan sekedar retorika para elit dan pihak tertentu yang katanya mengaku peduli dengan kemajuan bangsa ini. Toh pada kenyataannya, di peralihan tahun menuju 2009 ini wajah Indonesia kita masih diramaikan dengan berbagai persoalan nasional yang seakan tiada leka-lekanya datang menimpa.

Setelah krisis AS yang berimbas pada lesu perekonomian dunia dan tak terkecuali Indonesia, memang sudah sepatutnya kita merapatkan barisan untuk mencari cara bagaimana menggairahkan kembali roda perekonomian masyarakat kita. Dan kali ini kita memilih strategi kebudayaan sebagai ujung tombaknya.

Yang sekarang menjadi pertanyaan adalah, bagaimana sesungguhnya apresiasi masyarakat kita selama ini terhadap warisan budaya bangsa? Sebab kita tidak perlu menutup mata bahwa kebanyakan masyarakat kita lebih silau pada kebudayaan asing dari Barat daripada warisan budaya negeri sendiri. Derasnya arus globalisasi memang memungkinkan krisis identitas kebudayaan semacam ini.

Lalu yang terpenting juga, dapatkah kreativitas budaya bakal tumbuh menjadi bagian dari industri yang mapan dan menjanjikan di masa depan? Sebab kenyataan yang terjadi hingga sekarang, berbagai kegiatan budaya masih ditempatkan sebagai ajang seremonial atau hobi semata, dan belum dipandang sebagai peluang industri menguntungkan.

Dan betulkah misi menciptakan ekonomi kreatif lewat industri budaya ala Kongres Kebudayaan Indonesia 2008 itu tak sekedar retorika semata?

Industri Versus Budaya
Bicara soal ekonomi kreatif dan industri budaya di Indonesia, rasanya memang kita patut menyimak geliat pelaku bisnis yang tengah menggejala di sejumlah kota semisal Bandung dan Yogya. Di kota tersebutlah, industri berbasiskan kreativitas budaya tumbuh subur. Dengan mudahnya kita bisa menjumpai bisnis distro dan desain grafis, toko buku komunitas, panggung musisi indie lokal, pertunjukan teater dan tari, serta penerbitan buku dan ajang sastra yang begitu hidup.

Patut dicatat pula bahwa keba-nyakan pelaku bisnis tersebut berasal dari kalangan kaum muda. Mereka-mereka inilah yang menggerakkan ekonomi kreatif di kotanya dengan omzet masing-masing perusahaan yang tak bisa dipandang sebelah mata.

Di sana terbukti bahwa industri dan budaya mampu menemukan bentuknya untuk tidak saling berlawanan, namun berpadu dengan cerdas. Tak heran bila ekonomi kreatif benar-benar telah menggerakkan perekonomian masyarakat kota tersebut.

Sehingga memang benar adanya bila kita renungi lebih cermat, wacana ‘budaya sebagai mata uang baru’ menyiratkan semangat positif yang patut kita perhitungkan. Dan mulai sekarang kita bisa percaya, bahwa kreativitas budaya lokal di Kota Bogor dapat pula tumbuh jadi bagian dari industri yang mapan dan menjanjikan di masa depan.

Baca Selengkapnya..

ayo gabung di KMB . . .

Subscribe to menulis_bogor

Powered by us.groups.yahoo.com

 

blogger templates 3 columns | Make Money Online