sini biar kubantu cari

AWAS!!! BAHAYA LATEN INTERNET BAGI OTAK ANDA// AWAS!!! BAHAYA LATEN INTERNET BAGI OTAK ANDA// AWAS!!! BAHAYA LATEN INTERNET BAGI OTAK ANDA// AWAS!!! BAHAYA LATEN INTERNET BAGI OTAK ANDA// AWAS!!! BAHAYA LATEN INTERNET BAGI OTAK ANDA// AWAS!!! BAHAYA LATEN INTERNET BAGI OTAK ANDA// AWAS!!! BAHAYA LATEN INTERNET BAGI OTAK ANDA//

16 Desember 2008

Sekedar Catatan Akhir Tahun

Photobucket

Ekonomi Kreatif sebagai Industri Budaya
Menjanjikan di Masa Depan

oleh Pry S.


Ada kejadian yang tak biasa pada 10 – 12 Desember kemarin di kota Bogor. Sekitar 500 budayawan dan seniman dari seluruh Indonesia ujug-ujug kumpul di Hotel Salak Bogor. Hadir pula sejumlah pemimpin media massa, aktivis LSM serta para pejabat tinggi republik semisal Menko Kesra Aburizal Bakrie dan Menteri Kebudayaan dan Pariwista Jero Wacik. Ada apa rupanya?

Ternyata di tempat inilah, Kongres Kebudayaan Indonesia 2008 digelar dengan mengusung tema ‘Kebudayaan untuk Kemajuan dan Perdamaian Menuju Kesejahteraan’. Tak kurang dari 16 tema dibahas pada acara tersebut, antara lain kebijakan dan strategi kebudayaan, film dan seni media, warisan budaya, sastra, hak atas kekayaan intelektual (HAKI), pendidikan, media massa, seni pertunjukan, ekonomi kreatif dan industri budaya.

Sungguh-sungguh sebuah hajat istimewa, dan patut dibanggakan bahwa Kota Bogor kita yang tercinta ini berkesempatan menjadi tuan rumah Kongres Kebudayaan Indonesia kali ini.

Yang justru menarik adalah wacana yang didiskusikan pada acara itu, yakni bagaimana menempatkan budaya sebagai ‘mata uang’ baru dan deposit tambang potensial demi kesejahteraan bangsa Indonesia.

Lebih menarik lagi ketika terungkap bahwa pemerintah juga telah meluncurkan cetak biru (blue print) ekonomi kreatif Indonesia sampai tahun 2030.

Yakni sebuah konsep ekonomi baru yang berorientasi pada kreativitas budaya, serta warisan budaya dan lingkungan. Cetak biru tersebut akan memberi acuan bagi tercapainya visi dan misi industri kreatif Indonesia 30 tahun ke depan.

Tak Sekedar Retorika
Bagi kebanyakan kita, gagasan di atas mungkin bakal terkesan sekedar retorika para elit dan pihak tertentu yang katanya mengaku peduli dengan kemajuan bangsa ini. Toh pada kenyataannya, di peralihan tahun menuju 2009 ini wajah Indonesia kita masih diramaikan dengan berbagai persoalan nasional yang seakan tiada leka-lekanya datang menimpa.

Setelah krisis AS yang berimbas pada lesu perekonomian dunia dan tak terkecuali Indonesia, memang sudah sepatutnya kita merapatkan barisan untuk mencari cara bagaimana menggairahkan kembali roda perekonomian masyarakat kita. Dan kali ini kita memilih strategi kebudayaan sebagai ujung tombaknya.

Yang sekarang menjadi pertanyaan adalah, bagaimana sesungguhnya apresiasi masyarakat kita selama ini terhadap warisan budaya bangsa? Sebab kita tidak perlu menutup mata bahwa kebanyakan masyarakat kita lebih silau pada kebudayaan asing dari Barat daripada warisan budaya negeri sendiri. Derasnya arus globalisasi memang memungkinkan krisis identitas kebudayaan semacam ini.

Lalu yang terpenting juga, dapatkah kreativitas budaya bakal tumbuh menjadi bagian dari industri yang mapan dan menjanjikan di masa depan? Sebab kenyataan yang terjadi hingga sekarang, berbagai kegiatan budaya masih ditempatkan sebagai ajang seremonial atau hobi semata, dan belum dipandang sebagai peluang industri menguntungkan.

Dan betulkah misi menciptakan ekonomi kreatif lewat industri budaya ala Kongres Kebudayaan Indonesia 2008 itu tak sekedar retorika semata?

Industri Versus Budaya
Bicara soal ekonomi kreatif dan industri budaya di Indonesia, rasanya memang kita patut menyimak geliat pelaku bisnis yang tengah menggejala di sejumlah kota semisal Bandung dan Yogya. Di kota tersebutlah, industri berbasiskan kreativitas budaya tumbuh subur. Dengan mudahnya kita bisa menjumpai bisnis distro dan desain grafis, toko buku komunitas, panggung musisi indie lokal, pertunjukan teater dan tari, serta penerbitan buku dan ajang sastra yang begitu hidup.

Patut dicatat pula bahwa keba-nyakan pelaku bisnis tersebut berasal dari kalangan kaum muda. Mereka-mereka inilah yang menggerakkan ekonomi kreatif di kotanya dengan omzet masing-masing perusahaan yang tak bisa dipandang sebelah mata.

Di sana terbukti bahwa industri dan budaya mampu menemukan bentuknya untuk tidak saling berlawanan, namun berpadu dengan cerdas. Tak heran bila ekonomi kreatif benar-benar telah menggerakkan perekonomian masyarakat kota tersebut.

Sehingga memang benar adanya bila kita renungi lebih cermat, wacana ‘budaya sebagai mata uang baru’ menyiratkan semangat positif yang patut kita perhitungkan. Dan mulai sekarang kita bisa percaya, bahwa kreativitas budaya lokal di Kota Bogor dapat pula tumbuh jadi bagian dari industri yang mapan dan menjanjikan di masa depan.

Baca Selengkapnya..

Sembilan Rekomendasi Ode Kampung # 3

Para peserta Ode Kampung III: Temu Komunitas Literasi se-Indonesia 2008 bersepakat bahwa literasi adalah hak kunci untuk mendapatkan hak berekonomi, bersosialisasi, partisipasi politik dan pembangunan, khususnya dalam masyarakat berbasis pengetahuan.

Literasi merupakan kunci peningkatan kapasitas seseorang, dengan memberikan banyak manfaat sosial, di antaranya cara berpikir kritis, meningkatkan kesehatan dan perencanaan keluarga, program pengurangan angka kemiskinan, dan partisipasi warga negara. Literasi bukan hanya persoalan individu, tapi juga menyangkut persoalan komunitas dan masyarakat luas.

Literasi bukan sekadar melek huruf, tapi merupakan dasar penopang bagi pembelajaran di masa datang. Literasi memberikan piranti, pengetahuan dan kepercayaan diri untuk meningkatkan kualitas hidup, untuk lebih dapat memberikan kemungkinan berpartispasi dalam aktivitas bermasyarakat dan membuat pilihan-pilihan informasi yang akan dikonsumsi.

Untuk mewujudkan hal tersebut, peserta Ode Kampung mengajukan sembilan rekomendasi:


1. Mendesak pemerintah pusat untuk segera menyusun regulasi yang lebih teknis terkait dengan UU no 43 tahun 2007 tentang perpustakaan.
2. Mewajibkan Pemerintah daerah untuk membangun perpustakaan yang representatif, meningkatkan pelayanan yang optimal dan menyediakan tenaga pengelola perpustakaan yang profesional.
3. Menjalin kemitraan antara perpustakaan daerah dan perpustakaan komunitas. Serta membangun kerjasama antara perpustakaan komunitas lokal dan daerah lainnya
4. Mewajibkan lembaga pendidikan dan lembaga pemerintahan yang memiliki perpustakaan agar memberikan pelayanan bagi masyarakat luas.
5. Mewajibkan pengembang komplek perumahan/ pengelola pusat perbelanjaan untuk membangun perpustakaan sebagai bagian dari fasilitas umum
6. Mewajibkan penerbit menyumbangkan buku-buku kepada perpustakaan komunitas dan mengadakan peluncuran buku terbaru serta pelatihan menulis bersama para penulis buku.
7. Mendorong warga masyarakat untuk mendirikan perpustakaan komunitas di setiap desa/ kelurahan.
8. Mewajibkan perusahaan mengalokasikan tanggungjawab sosial perusahaan (Corporate Social Responsibility) untuk perpustakaan komunitas.
9. Menumbuhkan kebiasaan membaca dengan menyediakan bahan bacaan di lingkungan keluarga, lembaga pendidikan, dunia kerja, instansi pemerintah, tempat ibadah dan fasilitas umum lainnya.

Demikian sembilan rekomendasi ini diajukan kepada khalayak. Semoga mendapat dukungan dari semua elemen terkait demi mewujudkan kejayaan Indonesia di masa mendatang.


Tim Perumus,
Gola Gong, Wien Muldian, Firman Venayaksa, Kiswanti, Halim HD, Subhan, Amel, Mahmudin, Ariful Amir.

Komunitas/ Yayasan/ Penerbit/ Rumah Baca/ TBM yang menyuarakan dan mendukung rekomendasi ini:

1. Rumah Dunia (Serang)
2. Forum Indonesia Membaca (Jakarta)
3. 1001 Buku (Jakarta)
4. Forum Lingkar Pena (Jakarta)
5. KKS Melati (Jakarta)
6. Perahu Baca (Tangerang)
7. Warabal (Bogor)
8. Tatas Tuhu Trasna (Lombok)
9. Forum Pinilih (Solo)
10. Kandank Jurank (Tangerang)
11. Forum TBM (Jakarta)
12. Jala Pustaka (Pekalongan)
13. Nurani Dunia (Jakarta)
14. Tunas cendikia (Jakarta)
15. Zhaffa (Jakarta)
16. Lereng Medini (Kendal)
17. Textour (Bandung)
18. Asiatul Jannah (Cilegon)
19. Pendar Pena (Depok)
20. Lentera Kalbu (Pandeglang)
21. Rumah Tukik (Anyer)
22. Ratu Bagus (Serang)
23. Kebon Sastra (Serang)
24. Kubah Budaya (Serang)
25. Pondok Maos (Kendal)
26. Cahaya Lentera (Bandung)
27. Sanggar Daerah Pinggir Rel (Jakarta)
28. Ibnu Hajar (Magelang)
29. Kampung Apung (Jakarta)
30. Sakinah (Tangerang)
31. Biblio (Jogjakarta)
32. Teras Puitika (Banjar Baru)
33. Histeria (Semarang)
34. Aura Books (Pandeglang)
35. Sanggar Sastra Serang (Serang)
36. Tifa (Bekasi)
37. Perpustakaan Fisip Unair (Surabaya)
38. Cermin (Tasikmalaya)
39. Pondok Maos guyub (kendal)
40. Si Bagong (Purbalingga)
41. Sygma Publishing (Bandung)
42. Mizan (bandung)
43. Salamadani (Bandung)
44. Agromedia (Jakarta)
45. Kramat Jaya (Pandeglang)
46. Berkah Saluyu (Pandeglang)
47. Angsana (Pandeglang)
48. Attaqwa (Pandeglang)
49. Alfattah (Tangerang)
50. Komunitas Penulis Jakarta (Jakarta)
51. WaTas Media (Banjarmasin)
52. Forum Komunikasi Teater Banjarbaru (Kalimantan)
53. Enigma Community (Kalimantan)
54. Kelompok Studi Sastra Banjarbaru (Kalimantan)
55. Sanggar Matahari Martapura (Kalimantan)
56. Arjasari (Bandung)
57. Kandangpati (Sumatra)
58. Teater Lakon (Bandung)
59. Komunitas Bunga Matahari (Jakarta)
60. Jaringan Rumah Usaha (Semarang)
61. Bike To Work (Jakarta)
62. Ajar Meteseh (Kendal)
63. Ruang Sunyi (Bandung)
64. Baitul Hamdi (Menes)
65. Al-Muna (Menes)
66. Maritim (Pandeglang)
67. Visi Bangsa (Serang)
68. Bina Imu (Pandeglang)
69. Tunas Bangsa (Pandeglang)
70. Nina’s Creative Centre (Pandeglang)
71. Wacana (Jakarta)
72. Penulis lepas (Jakarta)
73. Rumah Cahaya (Depok)
74. Reading Bugs (Jakarta)
75. Matahari (Bogor)
76. Yayasan Aksara Angka (Bandung)
77. Perpustakaan Istiqomah (Jakarta Selatan)
78. TBM Sijabrik Palmeriam (Jakarta Timur)
79. wisata-buku. com
80. Penerbit SUHUD Sentrautama (Serang)
81. Yayasan Al-Khairati (Tangerang)
82. Komunitas Coretan ( Bogor )
83. Milis wongbanten
84. Kopi Sastra (Bogor)
85. Kafe Baca Biblioholic (Makasar)
86. Pondok Dadapan (Citayam)
87. Tetater UI (Depok)
88. LP2A Kasih (Makasar)
89. Forum Pinilih (Solo)
90. Lembah Pring (Jombang)
91. Sanggar Sastra Ndesa (Banyumas)
92. Rumah Sastra Langit Timur (Jogjakarta)
93. Bimbel Dzikra Prestatif (Bandung)
94. Dzikra Library (Bandung)
95. Penerbit Lentera Hati (Ciputat)
96. Penerbit Buah Hati (Tangerang)
97. Perpustakaan PPLH (Bali)
98. Rumah Baca Albiruni (Bogor)
99. Perpustakaan Politeknik Manufaktur Negeri (Bandung)
100. Yayasan Pakta (Jakarta)
101. Gempa (Makalengka)
102. Insan Baca (Surabaya)
103. Perpustakaan Medayu Agung (Surabaya)
104. Perpustakaan Pelangi Pusdakota Ubaya (Surabaya)
105. Taman Bacaan Kawan Kami (Surabaya)
106. Pondok Baca Bocah (Surabaya)
107. Taman Baca Anak Sholeh Fadhli dan Perpustakaan Ummi Fadhilah (Surabaya)
108. Sanggar Anak Lengger (Surabaya)
109. Rumah Baca Az-Zahra (Surabaya)
110. Kedai Baca Walhi (Surabaya)

Kepada Yayasan/ komunitas/ Taman Baca/ penerbit dll yang hendak mendukung sembilan rekomendasi ini dapat mengirim email ke: odekampungtiga@ gmail.com untuk diskusi lebih lanjut, bisa mendaftar di email: komunitas_literasi- subscribe@ yahoogroups. com

Baca Selengkapnya..

KMB di Harian Radar Bogor

Pada 16 November lalu telah digelar Diskusi Reguler Komunitas Menulis Bogor dengan Tema ‘Menggeliatkan Budaya Literasi Lokal’ (lihat posting notes sebelumnya).

Berikut ini liputan salah satu kawan KMB Pak Affandi Kartodihardjo yang termuat di Harian Radar Bogor Edisi Minggu 23 November 2008:


Catatan dari Diskusi Literer Lokal KMB
Yang Terucap Menguap, yang Tertulis Bisa Kekal


“Jika disuruh milih antara menonton atau membaca, pasti banyak yang lebih memilih nonton. Untuk nonton ini, banyak yang mampu duduk berjam-jam di depan televisi, sementara kalau membaca, tidak lebih dari 15 menit mata sudah berat. Ngantuk!”

Itulah realitas kehidupan masyarakat Indonesia. Begitu juga dengan aktivitas keseharian. Banyak yang mampu ngobrol berjam-jam. Cerita yang satu disambung dengan cerita lainnya. Semuanya lancar dan mengalir begitu saja. Tapi kalau disuruh menulis, baru beberapa kalimat sudah macet. Padahal, yang diobrolkan atau yang diucapkan itu gampang sekali menguap, sementara yang tertulis itu, meski hanya beberapa kalimat bisa kekal bahkan bisa terangkai dalam sebuah karya bermutu.

Simak saja karya Andrea Hirata dengan Laskar Pelangi-nya. Meski mengangkat masalah di tingkat lokal, tapi hasilnya bisa dinikmati secara nasional. Kisah tentang anak-anak miskin di Belitung yang berjuang keras untuk pendidikannya itu mampu menjadi novel yang paling laris di pasaran. Bahkan, saat cerita dari novel itu diangkat ke layar lebar sekalipun, filmnya tetap laris.

Karya tersebut membuktikan bahwa produk literasi lokal bukan karya kacangan, tak bermutu apalagi tidak komersil. Keberhasilan Andrea Hirata dalam mengemas pengalaman masa kecilnya itu harus menjadi contoh penulis lain untuk mendokumentasikan kondisi sosial budaya sesuai dengan zamannya. Dengan harapan, di masa depan karya tersubut bisa menjadi warisan literatur sejarah.

Orang bijak sering mengatakan kalau apa saja cerita yang terucap itu bisa menguap, sementara yang tertulis bisa kekal. Karya penulis lokal yang mampu menggambarkan kondisi sosial budaya bisa menjadi dokumen sejarah yang nilai-nilai filosofi di dalamnya dapat bermanfaat bagi generasi muda di masa yang akan datang.

Dari Sabang sampai Merauke Indonesia memiliki beragam kebudayaan dan setiap daerah memiliki tradisi literasi yang telah berkembang secara turun temurun. Tradisi inilah yang perlu dijaga oleh komunitas literasi lokal agar tidak tergerus oleh banjir literasi global.

Ajakan untuk membangkitkan literasi lokal tersebut mengemuka dalam diskusi yang diselenggarakan oleh Komunitas Menulis Bogor (KMB) di Toko Buku Alternatif Jendela Jl Cikabuyutan Baranangsiang Bogor. Beberapa penulis Bogor hadir dalam pertemuan tersebut, diantaranya adalah O Solihin pimpinan Gaulislam yang dikenal dengan puluhan bukunya, Gatot Aryo penulis Mimpi Bulan, Novelis Asri Probosinta, Nosa Normanda pengamat budaya dan komunitas sastra serta Pry. S yang bertindak sebagai moderator dan puluhan peserta lainnya.

Komunitas-komunitas menulis lokal harus menjadi pioner di tingkat nasional. Negeri ini masih mendambakan penulis-penulis sekaliber Umar Kayam yang mampu menggambarkan realitas masyarakat Indonesia, atau penulis fiksi sejarah sehebat Pramoedya Ananta Toer yang begitu dalam menceritakan masalah sosial di tingkat lokal dengan segala bentuk kompleksitasnya.

Untuk itu, budaya masyarakat yang lebih suka nonton, sedikit demi sedikit harus diubah. Dan, untuk mengubahnya perlu upaya yang serius. Sebab, harus diakui kalau saat ini masyarakat kita lebih suka ngobrol ketimbang membaca. Mereka lebih suka menghabiskan uang untuk membeli hp terbaru dan pulsa ratusan ribu sebulan dibanding membeli buku atau mengoleksi bacaan. (Affandi Kartodihardjo)

Baca Selengkapnya..

04 November 2008


MEMASUKI RUANG LENGANG,
MENEMUKAN LAGI KESUNY[C]IAN
Oleh Pry S.
Konon pada suatu zaman dimana kita berada sekarang, kebanyakan orang mesti membayar mahal untuk mendapatkan sebuah ketenangan dan kesunyian dalam hidupnya. Villa-villa besar dan megah sengaja dibangun di atas puncak pegunungan, agar mereka bisa menikmati waktu senggang mereka dengan tenang, tanpa gangguan, dan lari sebentar dari rutinitas kehidupan modern.

Bukannya tanpa sebab hal ini terjadi. Dan kian kita sadari bahwa kini kita tengah berada di zaman yang serba riuh. Yakni sebuah zaman 'edan' nan hiruk-pikuk yang penuh sesak oleh perayaan dan gemuruh tepuk tangan.

Di zaman semacam ini, kita terus dihadapkan pada rangkaian kalimat yang berdesak-desakan, diperdengarkan suara-suara yang reriung-riungan, disuguhkan beragam tontonan mencengangkan, dan dihadapi berbagai pengalaman paling mendebarkan yang tak pernah dirasakan manusia pada zaman-zaman sebelumnya.

Setiap pagi, saat kita buka koran terbaru, di situ akan tercetak belasan, puluhan, bahkan ratusan informasi terkini tentang bermacam-macam peristiwa dari segala penjuru dunia saling berdesak-desakan. Juga saat kita buka inbox e-mail kita, setiap harinya akan ada belasan, puluhan, bahkan ratusan informasi berdesak-desakan yang secara bersamaan pula minta diperhatikan. Dan tak hanya itu, di malam harinya saat kita pergi ke cafe atau restoran, lagu-lagu seperti sengaja disetel kencang-kencang, tak peduli tujuan kita ke situ sungguh-sungguh untuk makan atau sekedar bersua kawan.

Wajah jalan raya kita hari ini pun setali tiga uang. Segala kendaraan dari segala arah berdatangan hendak menuju bermacam-macam tujuan setiap harinya, setiap jamnya tanpa henti. Klakson-klakson itu pun akan terus saling bersahut-sahutan seiring arus komuter yang padat merayap. Begitu penat di telinga dan memacetkan pikiran, sebab semua orang tergesa-gesa untuk tiba lebih cepat ke tempat tujuan.

Sementara di belahan bumi yang lain, teknologi paling canggih terus diciptakan. Gedung-gedung tertinggi di dunia terus dipancangkan. Rekor-rekor tercepat dipecahkan. Konser paling megah dan akbar digelar. Seminar-seminar paling super nan dahsyat diadakan. Program acara paling lengkap dan 'terpercaya' disiarkan. Sas-sus paling hangat dan kontroversial disajikan.

Semuanya, secara serentak tampil bersamaan dan masing-masing minta diperhatikan. Segalanya pula, secara serentak seperti hendak menggiring kita dalam sebuah pesona dan janji-janji modernitas yang memabukkan, menawarkan kebahagiaan, kesenangan dan berbagai kejutan menggairahkan.

Dan memang, begini rupanya bentuk kebudayaan yang tengah kita praktikkan di millenium ketiga sekarang. Semuanya riuh, segalanya rusuh. Setiap orang sibuk hingga tak punya waktu lagi untuk berhenti, bicara dalam hati, atau sekedar merenungkan indahnya warna bunga dan kunang-kunang yang hingap di pekarangan rumahnya sendiri.

Di tengah segala keriuhan, kebisingan, dan ketergesa-gesaan zaman inilah, seorang Epri Tsaqib muncul di tengah-tengah kita sekarang. Epri yang mengajak kita untuk jeda sejenak dari semuanya, hening sebentar dari segalanya, mengambil nafas dalam-dalam untuk bersiap-siap masuk ke keketenangan 'Ruang Lengang'-nya yang sepi, yang jauh dari riuh nan pikuknya zaman.

Epri memang bukan demonstran yang sedang mengkritik zaman lalu mengajak kita semua aksi di tengah jalan. Ia juga bukan caleg yang peduli lingkungan sambil kampanye keliling kampung menjelang hari pemilihan. Epri pun tidak sedang ceramah, mengelar rangkaian penyuluhan, atau melakukan penelitian berbulan-bulan untuk menjawab gejala keriuhan zaman ini.

Epri justru, mengajak kita menyimak kembali makna kesunyian lewat sebuah cara yang kerap dipandang remeh dan tak ada gunanya bagi kebanyakan orang, yakni lewat sebuah kumpulan puisi!!

Epri dan Dunia Puisinya
Ruang Lengang merupakan judul buku kumpulan puisi karya Epri Tsaqib, bersampul hitam bergambarkan pemandangan tenang nan meneduhkan. Dirilis pertama kali di Jakarta pada Juli lalu, Ruang Lengang berisi 44 buah puisi yang diselinginya dengan 7 buah foto. Tak banyak memang penjelasan yang bisa kita dapatkan sebagai latar belakang kumpulan puisi ini. Hanya kata pengantar sebagai pembuka dan ucapan terima kasih dari Epri sendiri.

Berhubung terbatasnya ulasan yang bisa saya dapatkan tentang karya tersebut, maka di kesempatan kali ini saya akan coba membedah Ruang Lengang lewat pemaknaan tekstual semata –yang karenanya akan sangat mungkin menimbulkan perluasan makna dari puisi-puisi itu sendiri. Perluasan makna yang bisa jadi akan sangat berbeda dengan niat awal pengarangnya ketika puisi-puisi tersebut ditulis. Perluasan makna yang bisa jadi juga akan berbeda di benak masing-masing anda pembacanya.

Perluasan makna inilah yang tampaknya memang sengaja Epri tawarkan kepada kita semua. Sehingga bisa dikatakan, Epri hendak mengajak pembacanya dalam sebuah pemaknaan aktif ketika meniti puisi demi puisi di Ruang Lengang ini. Simak saja puisi pembuka berjudul 'Di Ruangan Itu' berikut ini:

di dasar ruang hatimu kutanam sunyi
sebuah tempat yang selalu bisa kudatangi
kapan saja aku mau termangu

hari ini aku datang ke situ
memandangi kamu yang galau
lalu aku tulis sebuah sajak yang tak selesai
kuletakkan di salah satu dindingnya

kau boleh melengkapinya kapan saja
atau membiarkannya basah sendirian
dengan tetes airmatamu

Berhubung puisi ini merupakan puisi pertama di buku ini, saya memandang bahwa sejak awal Epri sudah membuka 'ruang' yang multi tafsir dan membebaskan pembacanya dari beban makna. Ia seakan sengaja menulis 'sebuah sajak yang tak selesai' agar pembacanya bisa melengkapi sendiri makna dari setiap puisi yang ada di halaman-halaman berikutnya. Perluasan makna semacam ini kembali ditegaskan pada puisi berjudul 'Tanya' berikut ini:

apa yang kau cemaskan dari hujan?
masihkah ini soal puncak yang lain?
tidakkah begitu banyak isyarat perjalanan, rindu,
tangis, teriakan, hela nafas dan lamunan
menunggu kau nyanyikan

Adapun bait di atas, menurut hemat saya, bakal menjawab setiap per-tanya-an yang bakal muncul ketika kita coba memahami puisi Epri. Bahwa Epri sendiri yang mengajak kita pembaca untuk bernyanyi, untuk secara aktif memaknai.
Di sini kita paham bahwa memang beginilah puisi hendaknya kita perlakukan. Sebuah puisi, lewat kefiksian dan kesubtilan yang terkandung di dalamnya, memang tak membutuhkan verifikasi layaknya sebuah skripsi mahasiswa S-1 yang kaku. Bahasa puisi juga berbeda dengan bahasa jurnalistik yang terang dan mengharamkan ambiguitas.

Kalaupun Barthes menyatakan the dead of the author, maka setiap pembacaan puisi merupakan sebuah 'penulisan ulang' yang muncul akibat pemaknaan aktif pembacanya. Dengan begitu, sebuah puisi tak kan jadi sekedar benda mati dan mesti dituruti seperti kita membaca undang-undang, tapi kini ia hidup di benak pembacanya, bahkan terpisah dari sosok Epri sama sekali sebagai pengarang. Hal ini bisa kita simak pada petikan puisi berjudul 'Ruang Kosong' berikut ini:

Ada ruang kosong di hatiku
Yang selalu menunggu KAU isi

Tapi selama ini
Aku sesungguhnya lupa
Pintu ruang itu selalu terkunci

Kuncinya tertinggal
di rumahMU

Maka lewat perluasan makna inilah Ruang Lengang memang disiapkan sebagai wahana permainan makna dan tafsir pembacanya. Ia ibarat sebuah pintu menuju 'ruang' puisi Epri yang selalu menunggu untuk kita isi untuk kita maknai, sebab kita pembacanya sendirilah yang punya kunci untuk memasuki Ruang Lengang itu.

Masuk Ke Ruang Lengang
Masuk ke Ruang Lengang merupakan hal yang menyenangkan dan penuh makna buat saya. Jika di awal Epri telah mempersilahkan saya untuk masuk ke dalam ruang-ruang puisinya dengan leluasa, maka di dalam ruang itu saya (dan pembaca sekalian) bisa menemukan puisi-puisi yang menawarkan kesunyian yang hikmad pada puisi-puisi berjudul: Gerimis [1], Sebening Embun Sehangat Kopi, dan Pesan.

Ada pula yang menawarkan cinta dan persahabatan dalam: Warna, Lepas Tawa Kanak Kanak, Alun-alun Surya Kencana, dan Tentang Kita. Kemudian tentang nilai-nilai kekeluargaan dalam: Ibu, Ibu 2, Tiup Lilinnya Nak, dan Citacita.

Terkadang Epri juga hendak mengajak kita bermain-main seperti dalam Pencuri, Perjalanan Celanadalam, dan KAU. Di bagian ini, Epri bahkan tak ragu menghadapkan kita pada permainan kata, makna, dan tipografi yang eksperimental. Simak tipografi puisi berjudul ’KAU’ berikut ini:

L S T
a e e
n r r
g i s
k n e
a g o
h k
k
u

terluka dalam perih

sungguh aku tak peduli
bila KAU masih ada
: di setiap

t a m
e i a
t r t
e a
s k
u

Permainan ini lebih mengasyikkan lagi begitu kita tersadar bahwa 7 buah karya fotografi yang tersebar di berbagai halaman, ternyata menawarkan makna tersendiri yang memperkaya nikmatnya kesunyian di Ruang Lengang. Alih-alih sekedar merekam pemandangan, ketujuh esai foto tersebut justru mampu merekam suasana sunyi dan lengang dari berbagai lokasi di mana foto itu diambil. Sebab dengan begitu, kita akan digiring pada sebuah intertekstualitas sederhana dari perpaduan dua jenis teks, yakni puisi (kata) dan foto (gambar). Walhasil, upaya ini begitu memperkaya Ruang Lengang dalam menghidupkan suasana sunyi dan lengang itu sendiri di benak masing-masing pembaca.

Maka setelah masuk ke Ruang Lengang, mencicipi kesunyiannya, dan bermain-main di dalamnya, lalu apa yang bisa kita petik darinya? Ketika Iwan Simatupang berkata bahwa “setiap pengarang adalah produk kultural tanah airnya. Setiap karyanya, perbuatannya, pemikirannya, secara inhaerent memantulkan kembali pertautan dirinya dengan tanah airnya”, lalu sumbangan macam apa yang bisa Epri berikan untuk pembaca, bangsa dan tanah airnya, juga kebudayaan Indonesia kita hari ini? Dapatkah kita mencari tahu kemungkinan di mana letak Epri dengan ‘Ruang Lengang’nya dalam keriuhan ranah sastra kita hari ini yang kian sesak dengan dominasi metropop ringan nan banal, sastra perkelaminan semu nan cabul, dan sastra curhat blog yang nabrak-nabrak?

Epri, Ruang Lengang, dan Spiritualitas
Jangan salahkan saya kalau bagian ini akan terlihat sedikit serius. Maksud saya menghubungkan Epri, buku puisinya, dan nilai spiritualitas di sini justru muncul karena kita telah membedah Ruang Lengang sedemikian dalam sekarang.

Pemabahasan spiritualitas itu sendiri saya gunakan di sini bukan sekedar gaya-gayaan demi menjadikan esai ini sok teoritis, ilmiah atau apapun itu. Justru karena pengalaman saya ketika masuk dan bermain-main dalam Ruang Lengang inilah, tanpa sengaja saya menemukannya tengah tergolek manis dalam kesunyian puisi-puisi Epri.

Bila kita cermati keseluruhan buku ini, setidaknya ada 15 buah puisi yang mengandung tema spiritualitas. Hal ini mewujud lewat penggunaan kata semisal doa, sujud, tetes, sajadah, langit, kening, subuh, tasbih, dan shaf. Simak petikan puisi berjudul ‘Jama’ah’ berikut ini:

sungguh,
aku rela
meski hanya
jadi sebutir pasir

yang melengkapi pantai biru perawan
di langit cerah dengan nyiur melambai
dan deburan merdu laut, dalam sebuah potret

aku rela
meski hanya
jadi sebutir pasir
di pemandangan indah itu

: sungguh

Puisi lain yang terasa lebih khusyuk dan merdu ada di ‘Jiwajiwa Subuh’ berikut ini:

jiwajiwa subuh
memahat
keningkening rapuh
di lusuh sajadah

lirih alunkan tasbih

menggapai-gapai
mencariMU

Puisi dengan kandungan semacam ini juga bisa kita jumpai pada Azan Jum’at, Pesan, Ruang Kosong, KAU, dan Tujuh. Sebuah kandungan tema yang mesti diakui mendapat tempat istimewa dalam Ruang Lengang.

Dan ini yang membawa saya pada satu kesimpulan betapa kesunyian dan kelengangan yang ditawarkan Epri di sini bukan sekedar sepi sendiri yang hampa nan absurd. Namun kesepian yang diisi dengan nilai-nilai spiritualitas itu, maka Ruang Lengang menyajikan sebuah kesunyian dan kelengangan yang berisi. Sebuah kesunyian yang terkandung kesucian dan melibatkan nilai-nilai sipritualitas di dalamnya.

Diskusi Penutup
Yasraf Amir Piliang dalam bukunya Dunia Yang Dilipat (Jalasutra; 2004) menjelaskan, dunia spiritualitas merupakan dunia yang penuh kesunyian, yang digerakkan oleh energi pengekangan (hasrat), yang dibangun oleh benteng kesabaran, yang diasah oleh semangat kekhusyukan, yang selalu memproduksi kedalaman dan sublimasi, yang dipenuhi oleh ruang-ruang kesucian, dan yang disarati oleh tanda-tanda ketuhanan.

Nilai-nilai spiritualitas inilah yang tampaknya kian hari kian redup di tengah-tengah masyarakat kita sekarang. Simak saja betapa korupsi petinggi negara kian marak dan tanpa malu dilakukan, trend video porno pelajar dan mahasiswa yang merisaukan, pembunuhan berantai tanpa merasa bersalah, banalnya sajian pers kita dewasa ini yang hobi mengumbar ketelanjangan, dan kehampaan manusia modern yang bergelut dalam keriuhan, kebisingan, dan ketergesa-gesaan zaman.

Meski sayangnya di sisi lain, nilai-nilai spiritualitas ini secara bersamaan pula mesti terjebak dalam sempitnya pemikiran kaum konservatif tertentu, yang memaksa kita kembali pada sebuah dunia masa lalu yang stagnan, anti-progresif, dan tidak punya skenario masa depan untuk kebaikan bangsa ini. Sampai-sampai mereka berpikir bahwa dengan mengharamkan rokok dan meng-RUU-kan pornografi, maka semuanya akan menjadi beres.

Maka kini saya percaya, spiritualitas Ruang Lengang bakal membentuk wacananya sendiri bagi pembacanya. Mengajarkan nikmatnya kesunyian dan khusyuknya kesucian, bukan dengan paksaan, tapi lewat puisi-puisi yang membebaskan. Begitu sejuk dan melegakan . . .

Baca Selengkapnya..

27 Oktober 2008

Pemuda Kita dan Internet

Oleh Pry S.


Saya punya satu alasan penting kenapa kita sebagai kaum muda Indonesia patut merasa beruntung hari ini. Alasannya karena sekarang kita hidup di era majunya teknologi.

Dengan teknologi, kini kita bisa berkumpul, punya komunitas, dan berkomunikasi satu sama lain dengan cara yang tak sempat dirasakan oleh kaum muda Indonesia di zaman sebelumnya. Tekonologi ini yang kemudian kita kenal dan akrabi sebagai internet.

Saya jadi tergoda membayangkan kalau Mohammad Yamin dan kawan-kawannya masih hidup sampai sekarang. Bisa-bisa ia loncat dari kursinya kalau tahu ada yang namanya Sumpah Internet Pemuda (SIP) 2000, yakni peristiwa penting yang terjadi pada peringatan hari Sumpah Pemuda di tahun 2000.

Bila Sumpah Pemuda di zaman Moh Yamin dkk mesti mereka lakukan dengan menempuh perjalanan jauh ke gedung pertemuan pemuda di Jakarta, maka SIP 2000 dengan canggihnya mempertemukan para pemuda dan pelajar dari 8 kota besar di Indonesia secara serentak tanpa perlu hadir secara fisik.

Untuk berpartisipasi dalam acara itu, mereka cukup duduk manis di depan layar komputer masing-masing yang terhubung internet. Peringatan Sumpah Pemuda lewat internet pun bisa langsung mereka ikuti dengan mudahnya dari kotanya.

Ya memang, cukup semudah itu fasilitas yang ditawarkan teknologi internet bagi kaum muda kita sekarang. Dan kemudahan itu hendaknya bisa memicu semangat kita untuk memberikan kontribusi yang lebih baik lagi untuk bangsa kita, lebih dari yang pernah dilakukan Moh Yamin dkk di tahun 1928.

Dalam hal inilah saya melihat satu peluang yang sesungguhnya tersedia di depan mata, dan menunggu untuk kita raih. Peluang ini muncul seiring meluasnya penggunaan blog di kalangan pemuda Indonesia saat ini.

8 tahun berlalu setelah SIP 2000 dicanangkan, di tahun 2008 ini hampir setiap anak muda Indonesia punya blog pribadi. Kebanyakan diantaranya berisi catatan harian, renungan pribadi, dan berbagai artikel menarik hasil karya mereka sendiri.

Bahkan di pertengahan tahun ini pula (24 Agustus 2008), para blogger di Kota Bogor yang kita cintai ini bersepakat untuk menyatukan diri dalam sebuah wadah kreativitas bernama Blogor, alias Komunitas Blogger Bogor.

Dengan hadirnya Blogor, maka lengkap sudah wahana kreativitas yang tersedia bagi kita semua selaku kaum muda Kota Bogor untuk meraih peluang itu bersama-sama. Sebuah peluang yang menyiratkan arti penting bahwa kaum muda merupakan ujung tombak dari kemajuan suatu bangsa.

Nah, saya pikir inilah tantangan ke depan buat Blogor dan kita semua, yakni tantangan untuk mengarahkan para pemuda dan pelajar Kota Bogor untuk menjadi seorang blogger yang kreatif, peduli politik, dan peka akan permasalahan lingkungan sosialnya.

Mari kita hindari anggapan bahwa blogger itu negatif dan internet itu isinya cuma game dan pornografi. Ayo kita semua jadi blogger yang positif dalam berkontribusi untuk bangsa kita. Hidup Pemuda Indonesia!


*) Artikel ini diposting untuk mengikuti 'Lomba Menulis dalam rangka Hari Blogger Nasional dan Sumpah Pemuda' yang diadakan Komunitas Blogor

Baca Selengkapnya..

17 Oktober 2008

BELAJAR DARI KRISIS AMERIKA

oleh Pry S.

Beberapa waktu lalu kita dikejutkan kabar tentang ambruknya perekonomian Amerika Serikat. Kita saksikan pula betapa sejumlah perusahaan rak­sasa di negara itu satu persatu men­dadak bangkrut.

Tak heran bila seluruh dunia pun tercengang. Negara yang kita lihat begitu kuat secara ekonomi, politik dan militernya, kini malah tak berdaya menghalau laju krisis keuangannya sendiri untuk jangka waktu yang tak bisa dipastikan ka­pan berakhir.

Kepanikan massal pun melanda. Harga saham dunia bertumbangan, nilai tukar mata uang anjlok, inves­tor berlomba-lomba menyelamat­kan diri, jutaan nasabah menyerbu bank, para pemimpin dunia mera­patkan barisan menghadapi ber­bagai kemungkinan buruk yang da­pat terjadi di masa mendatang bagi negaranya sendiri.

Sampai-sampai, jajaran Kabinet Indonesia Bersatu pimpinan Presi­den SBY menggelar pertemuan serius dan tak biasa antara pemerin­tah, para pengusaha dan pemimpin media massa demi membahas per­soalan yang satu ini.

Apa yang sesungguhnya tengah terjadi? Betulkah AS kini tengah berada di penghujung kejayaannya? Mengapa krisis yang menimpa di negeri jauh sana membuat kita yang ada di sini menjadi ikut-ikutan repot? Patutkah ia kita persalahkan sebagai biang keladi dari krisis global ini? Dan mengapa kita perlu belajar dari peristiwa ini?

Dari Mana Datangnya Krisis
Sepanjang dari referensi yang bisa saya dapatkan, penjelasan tentang asal mula krisis ini terjadi saat tingkat suku bunga kredit perbankan di AS mencapai titik terendahnya bebera­pa tahun lalu. Sejak itulah penjualan rumah dengan harga kredit murah menjadi favorit dan marak digelar di sana.

Namun tak lama berselang set­elah booming kredit rumah itu mun­cul, Bank Sentral AS pada Juni 2004 secara bertahap mulai menaikkan suku bunga yang kian hari posisinya nangkring kian tinggi. Ini membuat kredit sektor peru­mahan jadi ikut-ikutan naik. Harga kredit rumah yang tadinya sangat murah, justru berbalik jadi demikian mahal.

Tak pelak lagi, masyarakat seper­ti kehabisan tenaga untuk melunasi kreditnya dengan suku bunga yang tinggi. Kredit macet besar-besaran pun tak terelakkan. Hingga pada awal tahun 2007, sejumlah lembaga keuangan yang menopang modal kredit perumahan ini terpaksa membekukan bank aset perusahaannya karena terus merugi.

Pembekuan ini ternyata memancing para nasabah bank melakukan penarikan dana besar-besaran di pertengahan tahun 2007. Penarikan dana besar-besaran ini jelas bukan indikasi baik, sebab dana nasabah itulah yang selama ini digunakan AS untuk membiayai pasar modal­nya ke seluruh dunia.

Tak heran bila dampaknya justru meluas. Harga saham dunia di pasar modal rontok satu-persatu. Sejum­lah perusahaan (keuangan) raksasa yang sangat bergantung pada pasar modal pun mulai menyatakan pailit secara bergantian.

Kondisi merisaukan ini membuat Pemerintah AS terpaksa mengucurkan dana darurat (baca: dana utangan) demi menyelamatkan sejumlah perusahaan finansial lain yang beruntung masih bisa megap-megap di tengah krisis. Tak ketinggalan pula sejumlah Bank Sentral di berbagai negara Eropa berinisiatif menyuntik­kan dana segar ke pasar modal agar kembali berjalan normal.

Tapi yang terjadi selanjutnya bisa ditebak, krisis yang mulanya terjadi hanya di AS, dengan sekejap menular ke seluruh dunia bak virus yang bergerak sangat cepat. Kebangkrutan pasar modal dunia yang menerapkan sistem ekonomi terbuka dan saling terhubung antara negara satu dengan lainnya (global), dengan cepat pula menyeret negara-negara lain ke dalam bayang-bayang krisis yang sama.

Belajar dari Krisis AS
Ibarat karena nila setitik, rusak susu sebelanga. Dan di kolam susu inilah tampaknya warga dunia tengah menunggu kapan giliran nila itu datang dan benar-benar melumpuhkan sendi-sendi perekonomian di negaranya masing-masing, tak terkecuali kita di Indonesia.

Dan kini kita paham bahwa kon­disi yang cukup serius kali ini memang awalnya bermula dari krisis nasional di AS, yang kemudian menyebar dengan cepat ke seluruh dunia. Namun jelas bahwa ia bukanlah penyebab utamanya seperti yang dituding oleh sejumlah media (lihat ‘Runtuhnya Pusat Kapitalisme’, Editorial Harian Radar Bogor, 27/09/08).

Yang menjadi benang merah dari rentetan krisis ini justru adalah penerapan globalisasi dima­na roda perekonomian banyak nega­ra di dunia digantungkan. Sebab dalam sistem ekonomi global yang tengah dipraktikkan banyak negara saat ini, krisis yang dialami suatu negara akan menular bak virus ke negara-negara lain, khususnya bila krisis itu bermula dari negara-negara maju dan yang punya otoritas dalam peta perkonomian dunia.

Meski belum memiliki definisi yang mapan, istilah globalisasi banyak dihubungkan dengan peningkatan keterkaitan dan ketergantungan antarbangsa dan antarmanusia di seluruh dunia dunia melalui perdagangan, investasi, perjalanan, budaya populer, dan bentuk-bentuk interaksi yang lain sehingga batas-batas suatu negara menjadi bias (wikipedia.com).

Di alam globalisasi inilah, kesalingterhubungan dan kesalingbergantungan antara negara satu dengan negara lain terjalin begitu kuat. Dengan begitu, sebuah negara yang telah maju diharapkan akan merangsang perekonomian negara-nega­ra yang sedang berkembang lewat sistem pasar bebas yang saling terhubung dan kompetitif. Tak heran bila globalisasi dipercaya akan mampu mem­bawa kemaslahatan pada segenap umat manusia di dunia.

Sebuah niat yang kedengarannya cukup mulia memang. Dan sejak diterapkan pada era 80-an, globalisasi menjadi sistem ekonomi (mencakup juga aspek sosial, budaya, dan komunikasi) yang populer di banyak negara. Tak terkecuali bagi negara kita tercinta yang kala itu berada di bawah rezim Orde Baru.

Tapi dengan adanya krisis global ini, untuk pertama kalinya kita disa­darkan, betapa sistem globalisasi yang tengah dipraktikkan keban­yakan negara saat ini, ternyata juga berpotensi membawa umat manu­sia pada krisis berkepanjangan. Ditambah lagi betapa globalisasi ekonomi dunia kian hari kita lihat semu dan banal, yakni di mana triliunan dollar AS diperjualbelikan dan dipermainkan di pasar modal, tetapi hanya sebagian saja diantaranya yang benar-benar menyentuh sektor riil.

Dengan kondisi kesalingterhubungan dan kesalingbergantungan inilah globalisasi ekonomi menciptakan budaya ekonomi sebagai jaringan terbuka (open network) yang rawan terhadap kemacetan di suatu titik jaringan dan serangan virus ke seluruh jaringan. Serangan virus (semisal kemacetan likuiditas) di sebuah titik jaringan (seperti AS) dengan cepat menjalar ke seluruh jejaring global tanpa ada yang tersisa.

Maka di titik ini pulalah kita sadar betapa Indonesia sebagai salah satu peserta yang turut serta dalam sistem ekonomi global, cukup rentan terkena dampak krisis ini.

Yang Bisa Kita Lakukan
Sejatinya, krisis global ini memang lebih banyak berpengaruh pada industri keuangan, khususnya pasar modal. Ruang gerak pasar modal itu sendiri belum meluas bagi usaha dan bisnis yang dijalankan bagi kebanyakan masyarakat Indonesia.

Bisa disimak bahwa roda perekonomian di Kota Bogor sendiri lebih banyak digerakkan oleh sektor riil dan usaha kecil menengah (UKM). Kebanyakan dari mereka menjalankan usaha yang tak memiliki persinggungan langsung dengan investor, juga dikerjakan oleh SDM dari dalam negeri sendiri.

Karenanya, kita selaku warga Bogor patut menjadikan peristiwa krisis global saat ini sebagai momentum dalam mendukung segenap pelaku bisnis dan UKM kota Bogor. Sebab, sejarah negeri ini telah membuktikan bahwa para pelaku bisnis dan UKM-lah yang mampu bertahan ketika krisis menerpa Indonesia di tahun 1998.

Dan kepada merekalah kita bisa berharap krisis global kali ini takkan mampir ke Indonesia.

Baca Selengkapnya..

05 Oktober 2008

Laskar Pelangi, Sebuah Wacana Matinya Pendidikan


Oleh Pry S.

Mendengar frase ‘Laskar Pelangi’, benak kita tentu akan tertuju pada novel tetralogi karangan Andrea Hirata yang rilis tiga tahun lalu. Cukup tiga tahun saja memang, waktu yang dibutuhkan baginya untuk menjadi best seller di mana-mana, dan untuk dijadikan film oleh sutradara ternama yang kini tengah gencar diputar di berbagai bioskop tanah air.

Cukup tiga tahun saja untuk Andrea Hirata merangkak dari seseorang yang tak dikenal di ranah kesusastraan Indonesia, menjadi penulis muda yang kini jadi perbincangan di mana-mana. Cukup tiga tahun pula baginya untuk menjungkirbalikkan paradigma ‘pasar sastra’ dalam negeri dari pandangan sempit bahwa hanya ‘sastra ringan ala teenlit’ dan ‘sastra kelamin’ yang laku di pasar sastra saat ini.

Suksesnya Laskar Pelangi yang mengangkat kehidupan kaum pinggiran nan miskin dan terlupakan di Pulau Belitong (sekarang Provinsi Bangka Belitung) menjadikan tokoh Ikal, Lintang, Mahar dkk sebagai pahlawan-pahlawan baru menggantikan tokoh ‘si Cowok Idaman’ dalam kebanyakan karya teenlit atau tokoh ‘Nayla si Trauma Seks’ dalam kebanyakan sastra kelamin saat ini. Maka tak heran, bila sejumlah kritikus sastra memandang Laskar Pelangi sebagai fenomena baru, baik di ranah kesusastraan maupun perfilman nasional.

Tapi kawan-kawan pembaca yang budiman, kali ini saya memang tidak hendak mengulang-ulang lagi fakta kesuksesan Laskar Pelangi ataupun fakta-fakta lain yang telah kita ketahui bersama seperti di atas tadi. Lewat esai ini, saya lebih tertarik untuk menafsirkan muatan wacana penting nan ironis yang terdapat dalam episode pertama teralogi Laskar Pelangi, yakni mengenai SD Muhammadiyah yang kere, hampir roboh, dan terancam ditutup bila jumlah muridnya kurang dari 10 orang.

Dalam latar kisah sekolah rekaan Andrea inilah saya menemukan representasi mengkhawatirkan tentang praktik pendidikan formal di Indonesia yang –menurut hemat saya– kini tengah menuju pada ‘kematiannya’.

Pendidikan Yang Mana

Sejatinya, pendidikan formal bertujuan membawa manusia keluar dari kungkungan kebodohan (emansiparotis). Dengan menguasai ilmu pengetahuan secara sistematis, rasional dan bersifat ilmiah, manusia dituntut untuk meninggalkan segala sumber pengetahuan manusia di masa lalu seperti mitos dan tradisi yang tidak rasional dan takhayul.

Maka dengan segala intelektualitas dan pengetahuannya itu, seorang manusia terdidik diharapkan mampu mendapatkan pengetahuan yang lebih baik tentang dunia dan mencapai kehidupan yang lebih baik baginya di masa depan. Hal inilah yang direpresentasikan Andrea dalam Laskar Pelangi lewat tuturan tokoh orangtua Lintang pada kalimat berikut:

Ayahnya . . . menganggap keputusan menyekolahkan Lintang adalah keputusan yang tepat . . . ia berharap Lintang dapat mengeluarkan mereka dari lingkaran kemiskinan yang telah lama mengikat mereka hingga sulit bernapas.” (Laskar Pelangi, halaman 95)

Maksud kalimat ini tentu sangat jelas. Tokoh ayah dan ibu Lintang percaya bahwa dengan menyekolahkan anaknya tersebut, Lintang akan membawa nasib keluarganya menjadi lebih baik di masa depan. Semangat Lintang bersekolah juga digambarkan dengan menempuh perjalanan sejauh empat puluh kilometer dari rumahnya di Tanjong Kelumpang menuju sekolah menggunakan sepeda sejak subuh hari.

Tempat Lintang dan kawan-kawannya bersekolahpun direpresentasikan dengan ideal oleh Andrea. Di sekolah yang mirip ‘gudang kopra’ itu, pendidikan yang diajarkan SD Muhammadiyah tidak semata berdasarkan standar kurikulum nasional, tetapi juga pendidikan moral, budi pekerti dan agama.

Simak kutipan berikut yang merupakan komentar tokoh Ikal mengenai Bu Mus:

‘Beliau sendiri yang menyusun silabus pelajaran Budi Pekerti dan mengajarkan kepada kami sejak dini pandangan-pandangan dasar moral, demokrasi, hukum, keadilan, dan hak-hak asasi . . . Kami diajarkan menggali nilai luhur di dalam diri sendiri agar berperilaku baik karena kesadaran pribadi. Materi pelajaran Budi Pekerti yang hanya diajarkan di sekolah Muhammadiyah sama sekali tidak seperti kode perilaku formal yang ada dalam konteks legalitas institusional seperti sapta prasetya atau pedoman-pedoman pengamalan lainnya.’(LP, hal 30-31)

Dari kutipan di atas kita bisa mengambil kesimpulan, bahwa memang kualitas seseorang yang berpendidikan tidak hanya diukur dengan nilai ujian dan angka di rapornya. Pendidikan yang baik mestilah menyeimbangkan pelajaran ilmu pasti dengan tuntunan agama, perilaku moral dan budi pekerti. Dan pendidikan model begini tentu akan mencetak manusia-manusia yang tak hanya encer otaknya, tapi juga memiliki mentalitas yang baik di kepribadiannya.

Kawan-kawan pembaca tentu akan setuju dengan saya bahwa memang begitulah seharusnya pendidikan formal dipraktikkan. Dan Andrea, lewat fiksinya tengah mengimajinasikan sebuah sekolah dengan konsep pendidikan ideal yang sejalan dengan semangat emansipatoris tadi.

Andrea Hirata dan Masalah Pendidikan

Adalah Iwan Simatupang, seorang tokoh sastra angkatan 70 yang menghabiskan hari-hari terakhirnya di kota Bogor, mengatakan demikian: ‘Pengarang adalah produk kultural tanah airnya. Setiap karyanya, perbuatannya, pemikirannya, secara inhaerent memantulkan kembali pertautan dirinya dengan tanah air’ (2004:337)

Dalam kata lain, kehidupan seorang pengarang akan selalu dipengaruhi lingkungan sosial-budaya dan bangsa di mana ia hidup. Sehingga apapun persoalan yang tertuang dalam karyanya kelak, seringkali merupakan hasil refleksi pengetahuan dan pengalaman hidupnya atas lingkungannya.

Maka di sinilah saya hendak menempatkan Andrea sebagai seorang pengarang yang tentu tak lepas dari pengaruh lingkungannya. Khususnya mengenai cara pandang Andrea terhadap permasalahan pendidikan di Indonesia, yang kemudian direpresentasikannya dalam bentuk fiksi lewat Laskar Pelangi.

Di banyak referensi, kita akan menemui keterangan bahwa Andrea memiliki minat terhadap sains dan dunia pendidikan. Alih-alih sebagai novelis, ia mengaku lebih suka mengidentikkan dirinya sebagai seorang akademisi. Maka tak heran bila dalam Laskar Pelangi terdapat banyak kalimat dengan ‘bumbu-bumbu’ ilmiah yang dipadukannya dengan kisah-kisah sederhana nan memikat.

Menyimak halaman persembahan dalam buku Laskar Pelangi yang ditujukannya untuk dua orang guru masa kecilnya (Muslimah Hafsari dan Harfan Effeny Noor), tampak bahwa dua orang ini tak sekedar tokoh fiksi Laskar Pelangi dalam imajinasi Andrea, tapi juga ada dalam pengetahuan dan pengalaman hidup Andrea sebagai pengarang.

Maka bisa ditafsirkan pula bahwa Andrea merupakan anak ideologis hasil pendidikan ideal ala SD Muhammadiyah di Belitong. Tak keliru bila kita paham bahwa pendidikan ideal tersebut memang benar-benar ada di kehidupan nyata, khususnya kehidupan yang dialami Andrea.

Berangkat dari sinilah, saya menemukan fakta mengkhawatirkan tentang wajah pendidikan formal bangsa kita dewasa ini yang kian jauh dari representasi Andrea tentang pendidikan ideal. Alih-alih menjalankan fungsi emansipatorisnya, wajah pendidikan formal yang dipraktikkan bangsa ini adalah wajah yang bertopeng dalam kepura-puraan dan sangat menakutkan.

Matinya Pendidikan Kita

Sebelum kita melanjutkan bahasan berikut, perlu dipahami kawan-kawan pembaca bahwa kata ’mati’ yang saya gunakan di sini bukanlah kematian secara fisik, namun ia merupakan metafora yang saya gunakan untuk melukiskan kecenderungan di mana fungsi emansipatoris dalam pendidikan kian menjadi tumpul.

Ketumpulan ini bisa kita lihat dari kecenderungan institusi/ penyelenggara pendidikan di Indonesia kini tengah gencar memproduksi lulusan yang link and match dengan pasar dunia kerja. Sehingga dalam jenjang waktu pendidikan yang singkat, diharapkan para lulusannya bisa memiliki skill praktis dan dengan mudah diserap pasar tenaga kerja.

Jutaan pelajar lulusan sekolah menengah juga kini tengah mengimpi-impikan dapat di fakultas favorit, jenjang kuliah yang singkat, dan setelah lulus mudah mendapatkan pekerjaan. Langkah ini sekilas memang terlihat strategis, mengingat Indonesia hari ini masih dibebani dengan persoalan tingginya angka pengangguran dan kemiskinan.

Namun saya sebut ini sebagai ketumpulan fungsi emansipatoris pendidikan yang kelak akan berujung pada matinya pendidikan, sebab ia membuat kita lupa bahwa sekolah dibangun untuk menguasai dan mengembangkan ilmu pengetahuan, dan bukan sekedar untuk mempermudah manusia mendapatkan gelar, pekerjaan, jabatan di perusahaan atau pun bergaji besar. Maka tak heran pula bahwa biaya yang dibutuhkan seseorang untuk mengenyam pendidikan, tak bisa dibilang sedikit.

Kini kian jelas bahwa, pendidikan emansipatoris yang tadinya bertujuan membawa manusia keluar dari kungkungan kebodohan dan mencapai budi pekerti yang baik, kini mulai berbelok ke arah yang pragmatis nan materialistis.

Praktik inilah yang telah lama menyusup ke dalam ruang-ruang kelas kita, catatan-catatan pelajaran kita, buku-buku praktikum yang wajib kita baca, hingga menjangkit ke pola pikir kita yang memandang fungsi kegiatan pendidikan bukan lagi sebagai tindakan yang emansipatoris, tetapi terkapitalisasi untuk sekedar mencari duit dan menjadi robot-robot pekerja yang baik.

Sekali lagi saya tekankan betapa konsep pendidikan yang link and match seperti ini sebagai indikasi matinya pendidikan, sebab lahan kerja yang kelak menyerap tenaga kerja berpendidikan bertujuan pada orientasi bisnis perusahaan (baca: kapitalis) semata, dan bukan berorientasi pada perbaikan struktur dan kultural masyarakat Indonesia. Terlebih lagi, pendidikan link and match model begini, menurut hemat penulis akan semakin menghambat mental kepeloporan, kepemimpinan, kemanusiaan, spiritualitas, dan mentalitas-mentalitas generasi muda Indonesia masa depan.

Pendidikan yang seharusnya dibangun berlandaskan nilai-nilai objektivitas, keilmiahan (scientific), dan kebijaksanaan (virtue) sebagai nilai dasar dalam ilmu pengetahuan, kini dimuati oleh nilai-nilai komersial sebagai ajang pencarian keuntungan (profit) semata. Inilah wajah pendidikan kita yang lebih tunduk pada kekuasaan kapital daripada kebenaran ilmiah dan moral kebangsaan.

Penutup

Apa yang terungkap pada uraian di atas memang terasa ganjil, problematis dan ironis bagi kelangsungan generasi muda intelektual kita saat ini yang membutuhkan kejujuran dunia ilmu pengetahuan. Betapa tidak, kita semua –mau tak mau– adalah bagian dari anak-anak peradaban yang terlanjur lahir dalam sebuah pendangkalan, pemassalan dan komersialisme sebagai praktik pendidikan mutakhir bangsa ini.

Drama matinya pendidikan inilah yang saya tangkap dari pengalaman saya ketika membaca Laskar Pelangi. Sungguh-sungguh sebuah drama yang ditutup dengan ironi ketika tokoh Ikal bertemu dengan Lintang pada dua belas tahun kemudian. Lintang dengan kecerdasan mengagumkan seorang anak pesisir miskin, mesti mengujungkan nasibnya sebagai supir truk pasir di Belitong.

Walhasil, membaca Laskar Pelangi juga membawa saya hanyut dalam perasaan yang sama seperti yang tokoh Ikal ucapkan di penghujung novel ini:

‘Dan kata-kata itu semakin menghancurkan hatiku, maka sekarang aku marah, aku kecewa pada kenyataan begitu banyak anak pintar yang harus berhenti sekolah karena alasan ekonomi. Aku mengutuki orang-orang bodoh sok pintar yang menyombongkan diri, dan anak-anak orang kaya yang menyia-nyiakan kesempatan pendidikan.’ (LP, hal 472)

Maka sebagai penutup, dengan ditulisnya esai ini saya memang tidak sedang mengajukan pemikiran jitu nan tokcer demi mengatasi permasalahan pendidikan tersebut. Esai ini lebih berniat menjadi apresiasi bagi Andrea dan para sastrawan lainnya yang tak hanya lihat dalam berkata-kata, tapi juga peka dengan permasalahan dan kondisi zamannya.

Mungkin juga ini saatnya kita meninggalkan gaya menulis kita yang melulu berkisah tentang pencarian diri, cinta picisan, atau pun seks. Mari menulis seperti Andrea yang menulis novel tak hanya untuk diri sendiri dan pembaca, namun juga berkarya untuk membangkitkan kesadaran pembacanya akan perkembangan pendidikan di Indonesia.

Matinya pendidikan di Indonesia mungkin baru kita rasakan sebagian kecil saja, tapi jelas bahwa ia patut untuk diwacanakan secara luas. Kecuali pada suatu nanti di masa depan, siap-siap saja kita dengar lonceng kematian ilmu pengetahuan dan praktik pendidikan berkumandang; lonceng kematian yang dikumandangkan sebagai tanda kemenangan pasar atas wafatnya rasionalitas intelektual bangsa ini.***

Baca Selengkapnya..

27 September 2008

RESENSI BUKU SIHIR PEREMPUAN

oleh Pry S.



Judul Buku: Sihir Perempuan (Kumpulan Cerpen)
Penulis: Intan Paramaditha
Penerbit: KATAKITA
Cetakan: I, 2005
Harga: Rp 30.000,-

Sosok manusia seperti apa yang akan terbersit di benak kita saat disodori kata ‘sihir’? Bisa jadi ia adalah sosok mistis dengan sorot mata tajam, rambut kaku kusam dan awut-awutan. Dengan jubah hitam dan topi kerucut panjang, ia juga mesti punya kemampuan magis, guna-guna atau voodoo, dan kalau perlu lengkap dengan sapu ajaibnya sekalian.

Lebih menariknya lagi, kata ‘sihir’ seringkali dihubungkan dengan sosok perempuan. Mengapa perempuan? Mengapa dalam lazimnya cerita-cerita dongeng hanya ada nenek sihir, tapi tidak ada istilah kakek sihir? Persoalan bias genderkah yang tengah berlaku, atau perempuan memang tercipta ke dunia lengkap dengan berbagai mitos dan cerita ‘seram’ yang melingkarinya?

Menyimak kumpulan cerpen ‘Sihir Perempuan’ karya Intan Paramaditha, kita akan menemukan berbagai pembongkaran mitos dan cerita ‘seram’ seputar perempuan, sebagai kerangka cerita kesebelas cerpen yang dapat dikategorikan ber-genre horror ini. Lancar saja Intan membangun jalinan cerita, bak seorang ibu yang sedang mendongeng untuk anaknya. Simak saja pembukaan cerpen berjudul ‘Perempuan Buta Tanpa Ibu Jari’ berikut ini:

Mari, mari, Nak. Duduk di dekatku. Yakinkah kau ingin mengetahui bagaimana aku menjadi buta? Ah, ceritanya mengerikan sekali, nak. Terlalu banyak darah tertumpah seperti saat hewan dikurbankan (hal 27).

Lewat cerpen tersebut pula, Intan hendak mengoreksi dongeng klasik Cinderella seraya membalikkan seluruh mitosnya dengan nada satir: …seperti yang telah kuduga sebelumnya, diam-diam Larat didatangi perempuan halus itu di loteng berdebu. Cerita yang sama seperti yang pernah kau dengar? Nah, kini akan kuberi tahu apa yang berbeda (hal 28). Dan Cinderella pun disulap jadi Sindelarat dalam bingkai narasi berbeda dengan akhir cerita mencekam.

Membaca cerpen selanjutnya, identifikasi kita atas tokoh-tokoh perempuan ‘sihir’ rekaan Intan muali terkuak jelas. Ada kisah pembunuh (Mak Ipah dan Bunga-Bunga), seorang copywriter iklan sebuah perusahaan dengan kuntilanak penyuka darah (Darah), hingga legenda Ratu Laut Kidul yang digarap dengan latar abad 21 (Sang Ratu).

Cepat atau lambat, kita akan segera menyadari benang merah dari keseluruhan cerita, yakni posisi Intan sebagai pengarang yang menempatkan sudut pandangnya lewat kacamata perempuan. Seperti yang diungkap kritikus sastra Manneke Budiman dalam diskusi buku ini di kampus FIB UI Depok 8 Juni 2005, bahwa sudut pandang perempuan berperan sentral menjadikan genre kisah hantu ini lebih sebagai sarana penyampaian pesan, daripada sekedar urusan bentuk penceritaan. Ini bisa kita simak dalam cerpen ‘Darah’ yang mengisahkan fenomena haid seorang tokoh perempuan bernama Mara. Kutipan berikut adalah salah satu contohnya:

Ya, kini aku menghabiskan satu bugnkus pembalut dalam satu setengah hari. Tubuhku cucian yang diperas hingga kering, dan yang tersisa tinggal perut berongga, seperti spons, tertusuk jarum.
Tus.
Tus.
Tus. (hal 123)

Sebagai kesimpulan, membaca kisah-kisah cerpen di buku ini kita tidak hanya hanyut dalam dunia ‘sihir’ rekaan pengarang. Lebih dari sekedar kisah bergenre horror, ‘Sihir Perempuan’ adalah relevansi antara dunia khayal dengan kehidupan nyata di mana benih emansipasi perempuan lahir dari pertentangannya dengan budaya patriarki.

Jika ada yang beranggapan bahwa gerakan feminisme seperti menampar muka partiarki dari depan, maka ada pula yang yang bilang bahwa Intan cukup menepuk bahunya dari belakang. Dan Intan melakukan itu dengan menyihir pembaca lewat cerita pendeknya.

Kalaupun ada yang dirasa kurang dari buku ini, salah satunya mungkin karena tiadanya prakata dari Intan sendiri, kecuali petikan puisi karya Anne Sexton berjudul ‘Her Kind’ di bagian awal buku. Padahal lewat prakata, pembaca akan mendapatkan informasi lebih di balik penciptaan karya-karya Intan yang mengaku dirinya terobsesi dengan figur ibu, darah, dan kegelapan.

Catatan:Anne Sexton adalah penyair pada puncak gerakan feminism dari Amerika pasca perang dunia II. Karyanya banyak mengangkat topik tentang perempuan seperti kelahiran bayi, tubuh perempuan, atau perkawinan dilihat dari sudut pandang perempuan. Dalam puisinya ‘Her Kind’, Sexton terlihat bersimpati dengan stereotip masyarakat akan perempuan sihir yang pantas dibakar di tiang gantungan.

Baca Selengkapnya..

02 September 2008

MENAFSIRKAN LAGI NARSIS


oleh Pry S.


Apa itu ‘narsis’? Kata apakah? Mahluk darimana ia, sehingga kita gemar menyebut-nyebutnya di kampus, di mall, di curhatan kamar tidur, hingga ke ruang-ruang praktik dokter kelainan jiwa?

“Narsisme adalah perasaan cinta terhadap diri sendiri yang berlebihan. Orang yang mengidap narsisme memang tidak selalu percaya diri di depan umum, namun bisa juga ditunjukkan dengan suka memfoto diri sendiri. biasanya orang yang narsis adalah seorang model, karena mereka sering sekali mendapat pujian dan itu menyebabkan mereka merasa percaya diri dan akhirnya berlebihan.”

Demikian uraian di atas saya kutip mentah-mentah dari laman wikipedia.com, yang tentu saja dimaksudkan si penulisnya sebagai definisi dari kata ‘narsis’ dan ‘narsisme’.

Berikut ini juga akan saya tampilkan keterangan dari seorang Psikolog Emphaty Development Center (EDC) Univ Indonesia. Menurut dokter tersebut, ada delapan ciri orang yang tergolong narsis, yaitu: (1) Orang narsis merasa lebih penting dan besar dibanding orang lain, contohnya dia merasa paling hebat dalam hal prestasi, bakat dan karir; (2) Punya fantasi untuk mencapai sukses dan kekuasaan yang sangat tinggi, walaupun hal itumustahil untuk bisa dicapai; (3) Merasa dirinya begitu unik dan beda dengan yang lainnya, yakni merasa lebih tinggi statusnya serta mengaku lebih cantik atau ganteng dibanding orang lain.

(4) Selalu merasa butuh pengakuan yang berlebihan dari orang lain; (5) Mereka selalu berharap yang tak masuk akal untuk diperlakukan oleh orang lain,meski dirinya sebnarnya tak istimewa; (6) Cenderung manipulatif dan selalu mengeksploitasi orang lain untuk kepentingan dirinya; (7) Tidak bisa berempati pada orang lain, tidak akan merasa peduli dengan apa yang menimpa orang lain; dan (8) Selalu arogan.

Hingga akhirnya, disebutkan bahwa jika kita merasa punya lebih dari 4 ciri-ciri di atas di atas, berarti kita sudah tergolong narsis. Dan singkatnya sih, dokter yang juga dosen di Univ Tarumanegara itu mengatakan bahwa narsisme termasuk sebagai gangguan kejiwaan. Wah, serem juga nih, Boy!

Berhubung penjelasan di atas belumlah memuaskan, saya coba meluncur langsung ke sumber tempat asalnya kata narsis ini mucul. Dari sumber tersebut dijelaskan bahwa kata narsis pertama kali digunakan dalam kisah mitologi Yunani Kuno berabad-abad silam. Mitologi tentang narsis ini ternyata memiliki beberapa versi berbeda. Versi yang akan saya gunakan di sini adalah naskah roman karya Ovid yang berjudul ‘Methamorphoses’. Versi ini sendiri merupakan versi tertua yang banyak dikutip kalangan luas, termasuk juga kalangan seniman dunia, yakni versi populer yang dikenal kebanyakan orang sampai sekarang.

Norcissus dari Boetia
Adalah Narkissos, Narcissi atau lebih banyak dikenal sebagai Narcissus, yakni seorang perempuan muda nan rupawan yang tinggal di kota Boetia, Yunani Kuno. Meski ia seorang perempuan, Narcissus gemar berpenampilan seperti anak laki-laki. Hingga suatu hari seorang pemuda bernama Armeinias menyatakan cintanya kepada Narcissus.

Alih-alih menerima pernyataan cinta Armeinias, Narcissus malah menghadiahkan sebilah pedang sambil menolak cinta pemuda itu. Pedang tersebut kelak digunakan Armeinias untuk bunuh diri di hadapan Narcissus. Armeinias yang sekarat sakit hati pun berdoa kepada Dewa Nemesis agar suatu hari nanti Narcissus akan merasakan kepedihan yang sama pula; cinta yang ditolak dan menghadapi kematian.

Doa tersebut kemudian menjadi kutukan bagi Narcissus. Kutukan ini mulai menimpa Narcissus ketika suatu hari ia terpikat dengan seorang pemuda tampan yang dilihatnya di sebuah kolam. Pemuda tersebut begitu memesonakan Narcissus dan membuatnya merasa begitu jatuh cinta, sehingga ia pun betah berhari-hari berada di kolam itu hanya untuk menikmati ketampanan wajah sang pemuda idaman.

Hingga pada akhirnya Narcissus sadar bahwa wajah pemuda tampan itu tak lain adalah bayangan wajahnya sendiri dari pantulan permukaan air kolam. Kian hari Narcissus malah kian terjebak dalam perasaan cinta pada bayangan wajahnya sendiri. Narcissus jadi tak bisa mencintai orang lain selain bayangan dirinya sendiri. Kutukan itu pun berakhir dengan kematian Narcissus yang menusukkan pedang ke perutnya sendiri, cara kematian yang sama seperti Armeinias dulu.


Menafsirkan Lagi Narsisme
Dari mitologi di atas, sekilas kita jadi bisa mengerti kenapa kata narsis dilekatkan pada orang yang memiliki kecenderungan untuk mencintai dirinya sendiri. Namun ketika narsis dilekatkan pada citra buruk dan negatif, bahkan dianggap gangguan kejiwaan oleh para dokter sok tau itu, saya mulai curiga bahwa mitologi Narcissus atau narsisme di tengah-tengah masyarakat kita sekarang telah mengalami peyorasi.

Saya sendiri memandang bahwa kisah Narcissus mengandung mitos yang hendak menyampaikan sesuatu pesan dari masa lampau. Dan mitos itu sendiri merupakan cara kebudayaan dalam menjelaskan fenomena kehidupan. Karenanya, alih-alih ikut memandang narsis secara negatif, pada kesempatan ini saya justru hendak menunjukkan penafsiran lain demi menyingkap bagaimana sebenarnya kandungan pesan dalam mitos Narcissus tersebut. Dan untuk mengetahui pesan tersebut, saya akan mencermati sejumlah simbol yang ada dalam kisah cinta Narcissus, yakni simbol (1) diri sendiri; (2) cinta; dan (3) kematian.

DIRI SENDIRI. Hal ini jelas mengacu pada jati diri manusia yang direpresentasikan oleh si Narcissus. Setiap manusia tentu memiliki jati diri yang mengada dalam dirinya. Yang patut dicatat ialah, jati diri seorang manusia tidaklah hadir dengan sendirinya. Jati diri seorang manusia justru mesti disingkap, dibentuk, dan ditemukan oleh si manusia itu sendiri.

Mengutip gagasan seorang filsuf eksistensialisme Perancis yang berkata ‘man is nothing else but what he makes of himself’. Hingga kelak, kita manusia akan terus menerus mencipta diri ini seperti apa yang kita kehendaki atas diri kita sendiri.

Dalam kata lain, menyoalkan jati diri sama halnya seperti kita mempertanyakan dalam hati ‘siapa diri saya ini sesungguhnya? Untuk mejawabsiapa diri kita sesungguhnya tentu tidak sesederhana menunjukkan kartu identitas, menyebutkan tanggal lahir, asal suku, atau agama yang kita anut. Saya pribadi percaya bahwa pencarian jati diri seorang manusia adalah sebuah proses yang tak bisa cepat-cepat selesai. Ia bak sebuah perjalanan yang kita lakukan demi menemukan jati diri kita sendiri.

CINTA. Tidaklah keliru bila kita hendak mengartikan cinta sebagai sesuatu yang muncul setelah rasa sayang melebur dengan rasa benci dalam satu ikatan ruang dan waktu. Yakni di mana kedua rasa yang saling oposisional tersebut melebur dan memunculkan cercapan rasa yang khas dalam perjalanan rasa. Kedua rasa tersebut merupakan titik tolak penting bagi kemunculan cinta. Dan Narcissus pun dikisahkan telah menemukan cintanya.

Kaitannya dengan diri sendiri, adalah saat kita menemui apa yang kita sayangi dan kita benci dari diri kita sendiri. Mencinta juga menyiratkan bahwa kita selalu dihadapkan pada segala kelebihan dan kekurangan yang ada pada diri kita sebagai seorang manusia. Penemuan kedua hal tersebutlah yang bila kita terima akan melahirkan perasaan cinta akan diri sendiri, sebuah penerimaan akhir nan bijak terhadap segala kekurangan dan kelebihan kita sendiri.

Berangkat dari hal inilah jati diri manusia terus berproses sepanjang hidupnya. Bergulat di antara keburukan dan kebaikan, kekurangan dan kelebihan, rasa sayang dan rasa benci terhadap diri sendiri. dan kita akan terus menerus belajar dari kedua hal itu. Sang Narcissus pun menemukan perjalanan jati dirinya sendiri dengan belajar menemukan cinta – dalam dirinya dan terhadap dirinya sendiri. Maka dengan mencintai diri sendiri, Narcissus akhirnya menerima dan memahami siapa dirinya sendiri.

Simbol terakhir adalah KEMATIAN. Sebuah tragedi agung yang pasti akan kita alami di penghujung nafas nanti. Ya, semua orang pasti mati. Kita memang tidak tahu pasti apa yang bakal terjadi pada diri kita setelah maut menjemput nanti. Tapi di titik inilah jati diri kita sebagai seorang manusia berakhir. Ia merupakan kesimpulan akhir dari perjalanan jati diri kita hidup di dunia.

Dan saat maut menjemput nanti, pertanyaan ‘siapa diri kita sesungguhnya’ dapat kita jawab dengan menyimak bagaimana kita menyayangi dan membenci diri kita sendiri semasa hidup. Dan dengan cara itulah Narcissus mati, dengan menemukan dirinya sendiri, yakni dengan satu cara: mencintai dirinya sendiri!

Penutup
Dari penafsiran ulang mitos Narcissus di atas, jelas bahwa narsisme bisa kita lihat secara positif. Bukan narsis yang peyoratif sebagai gangguan kejiwaan hingga perlu dijauhi, tetapi narsis sebagai upaya mencintai diri kita sendiri, menerima kelebihan dan kekurangan diri sendiri, hingga pada akhirnya kita dapat menemukan jati diri kita sendiri.

Maka kalau sudah begini, tunggu apa lagi. Ayo ber-narsis-lah dengan diri sendiri. Sebab narsisme jelas bukan semata sebagai gangguan kejiwaan, namun justru ia dapat jadi metamorfosis yang sempurna menuju masa depan kita kelak.[ ]

Baca Selengkapnya..

01 Agustus 2008

Bahasa Indonesia Terancam



Saya ingat suatu peristiwa saat upacara bendera setiap hari senin selama 12 tahun saya menempuh pendidikan formal. Entah mengapa kata “Indonesia” dalam lagu kebangsaan ‘Indonesia Raya’ ramai-ramai dinyanyikan dengan lafal “e”, yaitu “Endonesia.. tanah air ku..(dan seterusnya)”.

Padahal jelas-jelas huruf ‘i’ dalam kosakata bahasa Indonesia dibaca ‘i’, bukan ‘ai’ atau ‘e’. Sampai sekarang saya bahkan masih menemukan orang yang melafalkan ‘Indonesia’ dengan bunyi ‘Endonesia’.

Penemuan saya akan kerancuan berbahasa ini berlanjut demikian. Suatu hari saya ditertawakan beberapa rekan saat mengeja TV, VCD, dan DVD menjadi te-ve, ve-ce-de, dan de-ve-de. Alih-alih tersinggung, saya harus menerima itu sebagai sesuatu yang wajar jika saya ditertawakan, sebab memang ketiga kata tersebut bukan termasuk dalam kosakata bahasa Indonesia. Kata-kata tersebut memang berasal dari kata bahasa asing yaitu Television (TV), Video Compact Disk (VCD), dan Digital Video Disk (DVD).

Namun di lain hal, saya mempertanyakan pelafalan kata yang sudah dianggap lazim seperti kata HP untuk Handset Telephone, dan WWF untuk World Wildlife Foundation. Kedua kata tersebut tampaknya sah-sah saja saat dilafalkan ha-pe, dan we-we-ef. Bukannya saya lantas merasa tidak adil, tetapi rumusan mana yang sebaiknya kita taati bersama?

Adakah peraturan dalam berbahasa Indonesia yang mampu menertibkan kedua contoh kasus diatas?

Masuknya budaya asing –termasuk bahasa– ke Indonesia bisa berarti ikut memperluas wawasan kita akan dunia yang sedang bergerak maju di luar sana. Istilah-istilah asing yang tidak dapat kita temui dalam kosakata bahasa Indonesia, tentu akan memperkaya kosakata bahasa Indonesia dalam mendefinisikan sesuatu hal.

Tetapi ada baiknya juga kita mempertimbangkan dampak kurang baik yang muncul belakangan. Misal saja, kata ‘award’ lambat laun menggusur penggunaan kata ‘anugerah’, kini ‘mandeg’ lebih gengsi disebut ‘stuck’, kata ‘gaya hidup’ sudah jarang digunakan karena digusur kata ‘lifestlye’, dan lain sebagainya.

Situasi ini justru berkebalikan dengan situasi berbahasa di Indonesia saat awal Sumpah Pemuda diikrarkan dan pemerintahan RI pertama dibentuk. Para pakar, kaum intelektual, ahli bahasa, munsyi, dan sastrawan saat itu giat menciptakan bentukan kata baru dan bentukan kata serapan atas suatu istilah dari kata-kata asing. Sebut saja ‘hore’ (hurray), ‘peluit’ (flute), ‘mesti’ (must), ‘peri’ (fairy), ‘dokar’ (dog car), ‘sama’ (same), ‘justru’ (just true), dan lain sebagainya.

Saya rasa Indonesia saat ini butuh orang-orang kreatif menciptakan bentukan kosakata baru dan punya niat melestarikan bahasa Indonesia seperti orang-orang yang saya sebutkan tadi. Bukannya apa-apa, tetapi nasib bahasa Indonesia akan lebih menyedihkan bila suatu hari bakal terpinggirkan di negerinya sendiri.

Perhatikan saja dunia politik dan pers kita belakangan ini, istilah-istilah asing seperti money politics, walk out, dan mark up yang diungkapkan para politikus kita tercinta mentah-mentah saja dimuat di halaman suratkabar tanpa diserap atau disertakan padanan katanya.

Sebegitu miriskah nasib bahasa Indonesia di awal awal abad 21 ini, hingga kecenderungan pemakaian bahasa asing (khususnya Inggris) meningkat? Atau ini memang sudah menjadi pemandangan biasa dimana terjadi percampuran antara bahasa asli dengan bahasa asing, seperti halnya yang terjadi di Singapura dengan bahasa gado-gado rasa Singlish-nya?

Berikut ini adalah kutipan pendapat (alm) Dr. Soedjatmoko dalam Kongres Bahasa Indonesia III yang digelar di Jakarta pada November 27 tahun silam:

“Ada kecenderungan yang makin meningkat antara sarjana-sarjana Indonesia untuk ‘meloncat’ ke bahasa Inggris dalam pembicaraan-pembicaraan diantara mereka sendiri saat mendiskusikan masalah-masalah ilmiah yang sulit.”

Ia lalu berkata demikian, “Kita harus menjaga supaya kita tidak kembali kepada hierarki bahasa di zaman kolonial; dimana bahasa daerah menjadi bahasa paling rendah, yaitu sebagai bahasa pergaulan antar keluarga dan antar sahabat; bahasa Melayu sebagai bahasa komunikasi yang lebih luas pada tingkat kedua; dan bahasa Belanda untuk maju, untuk menguasai ilmu pengetahuan modern, dan untuk masuk ke dalam golongan elite bumiputera.”

Dari suara Soedjatmoko tersebut bisa kita lihat bahwa kebiasaan ‘menginggris’ (meloncat ke bahasa Inggris dalam percakapan) diantara masyarakat Indonesia sudah berlangsung sekian lama. Berbagai upaya penyembuhan telah banyak dilakukan. Diskusi bahasa dan permasalahannya pun tak pernah absen digelar setiap bulan Oktober, bulan bahasa dan sastra. Di pertengahan tahun 2005, budayawan Remy Sylado merasa perlu menerbitkan satu lagi buku kumpulan esai bahasa berjudul ‘Bahasa Menunjukkan Bangsa’ yang seringkali ditulisnya dengan nada sinis, untuk kembali mengingatkan masyarakat akan penyakit bahasa tersebut.

Saya pribadi menyadari ini saat sedang asyik di rumah, menyaksikan sajian Headline News dan Metro Showbiz News yang kebanyakan malah berisikan berita-berita dalam negeri, sambil mendengarkan album ‘Breakthru’-nya Nidji versi bahasa Inggris. Pelunturan bahasakah yang sedang terjadi atau mereka melakukan ini sekedar gagah-gagahan biar kelihatan sedikit bergengsi, intelek, dan sebagainya?

Akhir kata, saya tegaskan bahwa tulisan ini tidak dimaksudkan untuk melebih-lebihkan rasa nasionalisme atau chauvinisme apapun. Saya hanya menggambarkan sebuah situasi dimana suatu bahasa sedang menuju kepunahan jika situasi tersebut dibiarkan begitu saja berlarut.

Saya pun mengakui manfaat bahasa Inggris demi kelancaran komunikasi global antar bangsa dan negara di dunia. Tapi alangkah membosankannya dunia bila semua bangsa dunia secara seragam menggunakan satu bahasa saja. Bukankah keberagaman merupakan sesuatu yang indah?!

Baca Selengkapnya..

23 Juli 2008

Ironi dalam Praktik Pendidikan Kita

Oleh Pry S.

Kuliah Singkat, Mudah Kerja. Begitu bunyi spanduk besar yang terpasang di salah satu jalan raya Kota Bogor. Tertera pula padanya nama sebuah perguruan tinggi swasta dan daftar program pendidikan yang ditawarkan. Rupa-rupanya spanduk tersebut merupakan promosi penerimaan mahasiswa baru di salah satu perguruan tinggi swasta di Bogor.

Dan tak hanya di kota ini memang, setiap institusi/ penyelenggara pendidikan tinggi di Indonesia kini tengah gencar memproduksi lulusan perguruan tinggi yang link and match dengan pasar dunia kerja. Sehingga dalam waktu kuliah yang singkat, diharapkan lulusan mahasiswa bisa memiliki skill praktis dan dengan mudah diserap pasar tenaga kerja.

Jutaan pelajar lulusan sekolah menengah juga kini tengah mengimpi-impikan dapat di fakultas favorit, jenjang kuliah yang singkat, dan setelah lulus mudah mendapatkan pekerjaan. Langkah ini sekilas memang terlihat strategis, mengingat Indonesia hari ini masih dibebani dengan persoalan tingginya angka pengangguran dan kemiskinan.

Menkokesra Aburizal Bakrie menyebutkan tingkat kemiskinan masyarakat Indonesia pada 2006 adalah 39,30 juta jiwa dan di tahun 2007 menurun jadi 37,17 juta jiwa. Sedangkan tingkat pengangguran di Indonesia pada tahun 2006 mencapai 11,10 juta jiwa dan pada 2007 menjadi 10,55 juta jiwa (Republika, 25 Januari 2008). Lewat deretan angka di atas, tepat bila slogan “Kuliah Singkat, Mudah Kerja” yang dipraktikkan dalam pendidikan kita menjadi begitu relevan demi mengatasi persoalan bangsa.

Namun berkebalikan dengan kondisi di atas, lewat kesempatan saya justru hendak menampilkan perspektif lain dalam memandang kultur pendidikan kita yang kian link and match dengan kebutuhan pasar global. Yakni sebuah perspektif yang hendak menyingkap sebuah ironi yang terjadi dalam praktik pendidikan kita dewasa ini.

Tuntutan Pasar Global
Sejatinya, pendidikan formal merupakan salah satu agen budaya yang bertujuan membentuk intelektualitas manusia secara ilmiah dalam mengetahui realitas duniawinya. Pendidikan formal juga menggantikan segala sumber pengetahuan manusia di masa lalu seperti mitos dan tradisi yang dianggap takhayul dan tidak rasional.

Dalam kata lain, ilmu pengetahuan dan praktik pendidikan formal memiliki fungsi emansipatoris yang bertujuan membawa manusia keluar dari kebodohan. Fungsi emansipatoris ini menjadi kunci betapa pentingnya membentuk intelektualitas manusia agar mencapai kehidupan yang lebih baik di masa depan.

Sejarah mencatat bahwa kesadaran nasional bangsa pada awal masa kemerdekaan Indonesia, muncul dari sejumlah kalangan Bumiputra yang berkesempatan mendapatkan pendidikan formal. Meski begitu, kultur akademis yang terbentuk setelah kemerdekaan Indonesia belumlah mapan.

Riuhnya pertarungan ideologi dan politik di Rezim Orde Lama membuat praktik pendidikan menjadi agenda bangsa yang terbengkalai. Hingga krisis ekonomi-politik tak terelakkan, dan gerakan mahasiswa di tahun 1966 melahirkan Orde Baru yang kemudian mengacu pada pembangunan stabilitas politik dan perbaikan ekonomi bangsa.

Mengenai agenda pembangunan di masa itu, Rahardjo (1988:70-71) menganalisa bahwa model pembangunan di era Orba sejalan dengan kecenderungan sejumlah negara bekas jajahan Eropa yang pemerintahannya mengacu pada prinsip Keynesian tentang ‘pertumbuhan dengan pemerataan’ (growth with equity), yakni model pembangunan yang berorietasi pada penciptaan lapangan kerja, perekonomian terbuka, dan investasi asing besar-besaran.

Sejak itulah kultur akademis yang kemudian hadir hingga hari ini mengacu pada konsep pendidikan yang link and match dengan target memenuhi kebutuhan pembangunan dan tuntutan pasar ekonomi global. Yang lalu menjadi ironi dalam praktik pendidikan semacam ini, justru muncul ketika ia ditempatkan sebagai bagian dari agenda pembangunan bangsa dan kebutuhan pasar global.

Konsep pendidikan yang link and match tersebut, menurut hemat penulis mengakibatkan kian tumpulnya fungsi emansipatoris pendidikan formal. Pasalnya kultur akademis dalam praktik pendidikan yang seharusnya dibangun berlandaskan nilai-nilai objektivitas, keilmiahan (scientific), dan kebijaksanaan (virtue) sebagai nilai dasar dalam ilmu pengetahuan, kini dimuati oleh nilai-nilai komersial sebagai refleksi keberpihakan praktik pendidikan itu sendiri pada kekuasan modal (kapitalisme).

Pendidikan sebagai wahana pencarian pengetahuan (knowledge) dan kebenaran (truth), kini dijadikan sebagai wahana pencarian keuntungan (profit) semata. Bahkan secara ekstrim praktik pendidikan kita kian mengarah pada 4 prinsip restoran siap saji ala McDonald; yakni berlandaskan pada efisiensi masa studi, kalkulabilitas untung rugi, prediktabilitas peluang kerja, dan kontrol mekanistis nilai akademis semata. Sehingga institusi pendidikan ala McSchool dan McUniversity kita pun berlomba-lomba merayu generasi muda bangsa ini untuk menjadi McMahasiswa lewat jargon ‘Kuliah Singkat, Mudah Kerja”.

Institusi pendidikan semacam ini jelas tidak lagi menjalankan fungsi emansipatorisnya, dan cukup puas menjadi pihak yang memproduksi citra lulusan pendidikan yang sesuai dengan citra yang dibutuhkan di dalam sistem kapitalisme global: yakni manusia-manusia intelektual yang memiliki spesialisasi dan setelah menempuh pendidikan bisa siap bersaing dan bekerja. Inilah praktik pendidikan yang memaksa setiap orang menjadi pekerja sebagai ‘sekrup kecil’ di dalam sebuah ‘mesin raksasa’ kapitalisme pinggiran di Indonesia.

Penutup
Apa yang terungkap pada uraian di atas memang terasa ganjil, problematis dan ironis bagi kelangsungan generasi muda intelektual kita saat ini yang membutuhkan kejujuran dunia ilmu pengetahuan. Betapa tidak, mereka semua –mau tak mau– adalah bagian dari anak-anak peradaban yang terlanjur lahir dalam sebuah pendangkalan, pemassalan dan komersialisme sebagai praktik pendidikan mutakhir bangsa ini.

Praktik inilah yang telah lama menyusup ke dalam ruang-ruang kelas mereka, catatan-catatan pelajaran mereka, buku-buku praktikum yang wajib mereka baca, hingga menjangkit ke pola pikir mereka yang memandang fungsi kegiatan pendidikan bukan lagi sebagai tindakan yang emansipatoris, tetapi terkapitalisasi untuk sekedar menjadi manusia-manusia pekerja yang baik.

Tak heran bila wajah kampus kita sekarang tidak lagi diwarnai dengan kebebasan berpikir seiring dinamisnya perkembangan ilmu pengetahuan. Kampus kita hari ini telah cukup puas menjadi kampus serupa pabrik penghasil sekrup-sekrup kecil tadi. Slogan ‘Kuliah Singkat, Mudah Kerja’ adalah contoh telanjang yang merepresentasikan berbahayanya praktik pendidikan terhadap kemandirian bangsa. Saya sebut berbahaya sebab lahan kerja yang kelak menyerap tenaga kerja lulusan pendidikan tinggi bertujuan pada orientasi bisnis perusahaan (baca: kapitalis) semata, dan bukan berorientasi pada perbaikan struktur dan kultural masyarakat.

Pendidikan link and match model begini, menurut hemat penulis akan semakin menghambat mental kepeloporan, kepemimpinan, kemanusiaan, siritualitas, dan mentalitas-mentalitas generasi muda Indonesia masa depan. Untuk itu, lewat artikel ini penulis hendak menekankan perlunya evaluasi kembali atas praktik pendidikan kita selama ini dari perspektif pembangunan mentalitas. Kultur akademis yang mengedepankan prinsip objektivitas, keilmiahan, kebijaksanaan, pencarian pengetahuan dan kebenaran (truth) mestilah terus dijaga kelestariannya.

Pembangunan mentalitas ini penulis pandang cukup penting dan kontekstual mengingat kian disadari perlunya platform yang jelas dalam membangun eksistensi gerakan muda intelektual dan gerakan kepemudaan di Indonesia. Kecuali jika kita masih acuh saja mendengar lonceng kematian ilmu pengetahuan dan praktik pendidikan dikumandangkan; lonceng kematian yang menjadi tanda kemenangan pasar atas wafatnya rasionalitas intelektual bangsa ini.


Baca Selengkapnya..

ayo gabung di KMB . . .

Subscribe to menulis_bogor

Powered by us.groups.yahoo.com

 

blogger templates 3 columns | Make Money Online