sini biar kubantu cari

AWAS!!! BAHAYA LATEN INTERNET BAGI OTAK ANDA// AWAS!!! BAHAYA LATEN INTERNET BAGI OTAK ANDA// AWAS!!! BAHAYA LATEN INTERNET BAGI OTAK ANDA// AWAS!!! BAHAYA LATEN INTERNET BAGI OTAK ANDA// AWAS!!! BAHAYA LATEN INTERNET BAGI OTAK ANDA// AWAS!!! BAHAYA LATEN INTERNET BAGI OTAK ANDA// AWAS!!! BAHAYA LATEN INTERNET BAGI OTAK ANDA//

23 Juli 2008

Ironi dalam Praktik Pendidikan Kita

Oleh Pry S.

Kuliah Singkat, Mudah Kerja. Begitu bunyi spanduk besar yang terpasang di salah satu jalan raya Kota Bogor. Tertera pula padanya nama sebuah perguruan tinggi swasta dan daftar program pendidikan yang ditawarkan. Rupa-rupanya spanduk tersebut merupakan promosi penerimaan mahasiswa baru di salah satu perguruan tinggi swasta di Bogor.

Dan tak hanya di kota ini memang, setiap institusi/ penyelenggara pendidikan tinggi di Indonesia kini tengah gencar memproduksi lulusan perguruan tinggi yang link and match dengan pasar dunia kerja. Sehingga dalam waktu kuliah yang singkat, diharapkan lulusan mahasiswa bisa memiliki skill praktis dan dengan mudah diserap pasar tenaga kerja.

Jutaan pelajar lulusan sekolah menengah juga kini tengah mengimpi-impikan dapat di fakultas favorit, jenjang kuliah yang singkat, dan setelah lulus mudah mendapatkan pekerjaan. Langkah ini sekilas memang terlihat strategis, mengingat Indonesia hari ini masih dibebani dengan persoalan tingginya angka pengangguran dan kemiskinan.

Menkokesra Aburizal Bakrie menyebutkan tingkat kemiskinan masyarakat Indonesia pada 2006 adalah 39,30 juta jiwa dan di tahun 2007 menurun jadi 37,17 juta jiwa. Sedangkan tingkat pengangguran di Indonesia pada tahun 2006 mencapai 11,10 juta jiwa dan pada 2007 menjadi 10,55 juta jiwa (Republika, 25 Januari 2008). Lewat deretan angka di atas, tepat bila slogan “Kuliah Singkat, Mudah Kerja” yang dipraktikkan dalam pendidikan kita menjadi begitu relevan demi mengatasi persoalan bangsa.

Namun berkebalikan dengan kondisi di atas, lewat kesempatan saya justru hendak menampilkan perspektif lain dalam memandang kultur pendidikan kita yang kian link and match dengan kebutuhan pasar global. Yakni sebuah perspektif yang hendak menyingkap sebuah ironi yang terjadi dalam praktik pendidikan kita dewasa ini.

Tuntutan Pasar Global
Sejatinya, pendidikan formal merupakan salah satu agen budaya yang bertujuan membentuk intelektualitas manusia secara ilmiah dalam mengetahui realitas duniawinya. Pendidikan formal juga menggantikan segala sumber pengetahuan manusia di masa lalu seperti mitos dan tradisi yang dianggap takhayul dan tidak rasional.

Dalam kata lain, ilmu pengetahuan dan praktik pendidikan formal memiliki fungsi emansipatoris yang bertujuan membawa manusia keluar dari kebodohan. Fungsi emansipatoris ini menjadi kunci betapa pentingnya membentuk intelektualitas manusia agar mencapai kehidupan yang lebih baik di masa depan.

Sejarah mencatat bahwa kesadaran nasional bangsa pada awal masa kemerdekaan Indonesia, muncul dari sejumlah kalangan Bumiputra yang berkesempatan mendapatkan pendidikan formal. Meski begitu, kultur akademis yang terbentuk setelah kemerdekaan Indonesia belumlah mapan.

Riuhnya pertarungan ideologi dan politik di Rezim Orde Lama membuat praktik pendidikan menjadi agenda bangsa yang terbengkalai. Hingga krisis ekonomi-politik tak terelakkan, dan gerakan mahasiswa di tahun 1966 melahirkan Orde Baru yang kemudian mengacu pada pembangunan stabilitas politik dan perbaikan ekonomi bangsa.

Mengenai agenda pembangunan di masa itu, Rahardjo (1988:70-71) menganalisa bahwa model pembangunan di era Orba sejalan dengan kecenderungan sejumlah negara bekas jajahan Eropa yang pemerintahannya mengacu pada prinsip Keynesian tentang ‘pertumbuhan dengan pemerataan’ (growth with equity), yakni model pembangunan yang berorietasi pada penciptaan lapangan kerja, perekonomian terbuka, dan investasi asing besar-besaran.

Sejak itulah kultur akademis yang kemudian hadir hingga hari ini mengacu pada konsep pendidikan yang link and match dengan target memenuhi kebutuhan pembangunan dan tuntutan pasar ekonomi global. Yang lalu menjadi ironi dalam praktik pendidikan semacam ini, justru muncul ketika ia ditempatkan sebagai bagian dari agenda pembangunan bangsa dan kebutuhan pasar global.

Konsep pendidikan yang link and match tersebut, menurut hemat penulis mengakibatkan kian tumpulnya fungsi emansipatoris pendidikan formal. Pasalnya kultur akademis dalam praktik pendidikan yang seharusnya dibangun berlandaskan nilai-nilai objektivitas, keilmiahan (scientific), dan kebijaksanaan (virtue) sebagai nilai dasar dalam ilmu pengetahuan, kini dimuati oleh nilai-nilai komersial sebagai refleksi keberpihakan praktik pendidikan itu sendiri pada kekuasan modal (kapitalisme).

Pendidikan sebagai wahana pencarian pengetahuan (knowledge) dan kebenaran (truth), kini dijadikan sebagai wahana pencarian keuntungan (profit) semata. Bahkan secara ekstrim praktik pendidikan kita kian mengarah pada 4 prinsip restoran siap saji ala McDonald; yakni berlandaskan pada efisiensi masa studi, kalkulabilitas untung rugi, prediktabilitas peluang kerja, dan kontrol mekanistis nilai akademis semata. Sehingga institusi pendidikan ala McSchool dan McUniversity kita pun berlomba-lomba merayu generasi muda bangsa ini untuk menjadi McMahasiswa lewat jargon ‘Kuliah Singkat, Mudah Kerja”.

Institusi pendidikan semacam ini jelas tidak lagi menjalankan fungsi emansipatorisnya, dan cukup puas menjadi pihak yang memproduksi citra lulusan pendidikan yang sesuai dengan citra yang dibutuhkan di dalam sistem kapitalisme global: yakni manusia-manusia intelektual yang memiliki spesialisasi dan setelah menempuh pendidikan bisa siap bersaing dan bekerja. Inilah praktik pendidikan yang memaksa setiap orang menjadi pekerja sebagai ‘sekrup kecil’ di dalam sebuah ‘mesin raksasa’ kapitalisme pinggiran di Indonesia.

Penutup
Apa yang terungkap pada uraian di atas memang terasa ganjil, problematis dan ironis bagi kelangsungan generasi muda intelektual kita saat ini yang membutuhkan kejujuran dunia ilmu pengetahuan. Betapa tidak, mereka semua –mau tak mau– adalah bagian dari anak-anak peradaban yang terlanjur lahir dalam sebuah pendangkalan, pemassalan dan komersialisme sebagai praktik pendidikan mutakhir bangsa ini.

Praktik inilah yang telah lama menyusup ke dalam ruang-ruang kelas mereka, catatan-catatan pelajaran mereka, buku-buku praktikum yang wajib mereka baca, hingga menjangkit ke pola pikir mereka yang memandang fungsi kegiatan pendidikan bukan lagi sebagai tindakan yang emansipatoris, tetapi terkapitalisasi untuk sekedar menjadi manusia-manusia pekerja yang baik.

Tak heran bila wajah kampus kita sekarang tidak lagi diwarnai dengan kebebasan berpikir seiring dinamisnya perkembangan ilmu pengetahuan. Kampus kita hari ini telah cukup puas menjadi kampus serupa pabrik penghasil sekrup-sekrup kecil tadi. Slogan ‘Kuliah Singkat, Mudah Kerja’ adalah contoh telanjang yang merepresentasikan berbahayanya praktik pendidikan terhadap kemandirian bangsa. Saya sebut berbahaya sebab lahan kerja yang kelak menyerap tenaga kerja lulusan pendidikan tinggi bertujuan pada orientasi bisnis perusahaan (baca: kapitalis) semata, dan bukan berorientasi pada perbaikan struktur dan kultural masyarakat.

Pendidikan link and match model begini, menurut hemat penulis akan semakin menghambat mental kepeloporan, kepemimpinan, kemanusiaan, siritualitas, dan mentalitas-mentalitas generasi muda Indonesia masa depan. Untuk itu, lewat artikel ini penulis hendak menekankan perlunya evaluasi kembali atas praktik pendidikan kita selama ini dari perspektif pembangunan mentalitas. Kultur akademis yang mengedepankan prinsip objektivitas, keilmiahan, kebijaksanaan, pencarian pengetahuan dan kebenaran (truth) mestilah terus dijaga kelestariannya.

Pembangunan mentalitas ini penulis pandang cukup penting dan kontekstual mengingat kian disadari perlunya platform yang jelas dalam membangun eksistensi gerakan muda intelektual dan gerakan kepemudaan di Indonesia. Kecuali jika kita masih acuh saja mendengar lonceng kematian ilmu pengetahuan dan praktik pendidikan dikumandangkan; lonceng kematian yang menjadi tanda kemenangan pasar atas wafatnya rasionalitas intelektual bangsa ini.


0 Comments:

ayo gabung di KMB . . .

Subscribe to menulis_bogor

Powered by us.groups.yahoo.com

 

blogger templates 3 columns | Make Money Online