sini biar kubantu cari

AWAS!!! BAHAYA LATEN INTERNET BAGI OTAK ANDA// AWAS!!! BAHAYA LATEN INTERNET BAGI OTAK ANDA// AWAS!!! BAHAYA LATEN INTERNET BAGI OTAK ANDA// AWAS!!! BAHAYA LATEN INTERNET BAGI OTAK ANDA// AWAS!!! BAHAYA LATEN INTERNET BAGI OTAK ANDA// AWAS!!! BAHAYA LATEN INTERNET BAGI OTAK ANDA// AWAS!!! BAHAYA LATEN INTERNET BAGI OTAK ANDA//

22 Juli 2008

Pelukis [Mati] Yang Menghantui

oleh Pry S.

Bayangkan di suatu hari kita bersama 5 orang kawan mengunjungi sebuah pameran lukisan. Kita mungkin akan menghabiskan waktu sekitar beberapa jam berada ruang pameran tersebut, dan butuh beberapa menit untuk menyimak setiap lukisan dengan seksama hingga kita pun beralih ke lukisan-lukisan berikutnya. Kita juga mungkin akan terpaku lebih lama menekuri satu atau dua lukisan yang menurut kita paling menarik hati dari seluruh lukisan yang di situ. Sampai timbul pertanyaan dalam diri, apa maksud dari lukisan ini?

Namun, alih-alih berusaha mengartikan apa ‘maksud’ atau ‘makna’ yang dikandung dalam lukisan tersebut, kita malah mendapati bahwa ‘makna’ tersebut diartikan berbeda oleh setiap orang yang melihatnya. Bahkan saat kita menanyakan hal tersebut pada 5 orang kawan tadi, kita menemukan 5 pendapat berbeda mengenai lukisan tersebut.

Dalam benak kembali muncul pertanyaan, mengapa hal ini terjadi? Lalu adakah satu ‘pesan’ yang tunggal dalam lukisan tersebut yang betul-betul merupakan ‘pesan sesungguhnya’ dari sang pelukis? Kalau memang betul ada, lalu mengapa tiap orang justru mengartikannya berbeda satu sama lain? Bisakah sang pelukis mengontrol agar ‘pesan sesungguhnya’ tersebut dapat sampai dengan utuh dan sama kepada tiap orang yang melihat lukisannya? Bagaimana caranya?

Lewat esai ini, saya memang hendak menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas. Tapi ada baiknya saya terlebih dahulu mengajak pembaca kembali ke pertengahan tahun 2002, yakni masa dimana untuk pertama kalinya saya berkenalan dengan seorang pekerja seni yang aktif di dunia seni visual, baik lukisan, mural, desain grafis, instalasi, dan entah berapa jenis lagi yang dikuasainya.

Waktu pertama kali berkunjung ke kosannya di bilangan Lentengagung, perhatian saya tertuju pada sekian banyak karya lukis yang terpajang, dari luar hingga ke dalam kamarnya. Orang yang belakangan saya ketahui nama aslinya Ryan Riyadi ini akrab dipanggil Popo.

“Gue menganggap setiap karya lukisan gue itu punya dunianya sendiri“ begitu ujarnya kalau saya tak salah ingat. Popo melanjutkan, “Maksudnya, kalau di tengah-tengah gambar ada garis pendek yang gak sengaja kecoret kuas dan gak nyambung sama objeknya, ya bakal gue biarin dan gak gue hapus.”

Karena apa? Bukannya nanti gambar lo bakal jadi lebih bagus dan bersih tanpa coretan? Tanya saya.

“Karena setiap karya lukisan punya dunianya sendiri, dan coretan itu –meskipun coretan itu gak disengaja– udah jadi bagian dari dunia lukisan gue tadi. Jadi buat apa dihilangin?” jawab Popo. “Lagi juga, itu khan hak gue sebagai pelukis mau naro objek ini di sini atau garis itu di situ.”

Benar juga. Dari penjelasan Popo saya mendapat dua poin penting. Satu, sang pelukis punya hak atas karya yang dikerjakannya. Dalam dunia sastra (dunia yang kebetulan saya akrabi) hak ini disebut sebagai licentia poetica, yakni hak dimana sang pengarang memiliki kekuasaan (otoritas) penuh terhadap kata-kata yang ditulisnya.*

Menurut saya licentia poetica ini juga berlaku dalam dunia lukisan, yakni dimana sang pelukis memiliki otoritas penuh atas garis, warna, gambar, dan objek apapun yang ingin dihadirkan dalam karya lukisannya. Maka tak heran bila saya poin satu tersebut berkaitan dengan poin Dua, yakni setiap karya lukisan punya dunianya sendiri. Dalam kata lain, licentia poetica yang dimiliki sang pelukis membuat karya lukisannya sebagai ‘dunia tersendiri’ yang tak bisa diganggu gugat oleh siapa pun kecuali jika sang pelukis menginginkannya.

Dalam hal ini kita bisa berkata bahwa Popo sebagai pelukis memang memiliki otoritas penuh terhadap objek apa yang ingin ‘dihadirkannya’ dalam karya lukisannya tersebut. Tapi dengan memandang bahwa sebuah karya lukisan memiliki dunianya sendiri, apakah Popo juga memiliki otoritas penuh terhadap makna apa yang ingin ‘disampaikannya’ lewat karya lukisannya tersebut?

Dengan ini saya jawab, tidak bisa. Sebab setelah selesai dikerjakan dan karya lukisan tersebut jadi, licentia poetica sang pengarang sudah tak berlaku lagi. Dan setelah lukisan tersebut menjadi sebuah dunianya sendiri, ia tak lagi bisa diganggu gugat oleh siapapun dan bahkan oleh sang pelukisnya sendiri. Ia kini telah menjadi ‘sesuatu yang berdiri sendiri’ yang bahkan terpisah dari sang pelukisnya.

Konsekuensinya jelas saja, pelukis tak lagi punya otoritas terhadap makna apa yang ingin ‘disampaikannya’ lewat karya lukisannya tersebut. Ia kini menjelma sebagai ‘teks’ dimana kita semua (termasuk juga pelukisnya) bebas menafsirkan satu atau lebih ‘makna’ dari sekian banyak ‘makna’ yang terkandung dalam lukisan tersebut. Sampai disini mohon pembaca jangan bingung dulu. Penjelasan lebih lanjutnya demikian.

Lukisan Sebagai Teks

Jika bepergian ke daerah pegunungan, kita tentu bisa melihat tingginya bukit, birunya langit dan segarnya udara. Kita pun merasakan keagungan Tuhan dari keindahan pemandangan tersebut. Alih-alih mengagumi keagungan Tuhan yang telah menciptakan keindahan tersebut, muncul hasrat dalam diri kita untuk meniru, menciptakan, dan mengkreasi pemandangan bukit, langit, dan udara yang kita lihat dan rasakan tersebut. Di titik inilah sebuah ‘teks’ lahir sebagai ciptaan manusia dalam meniru realitas.

Karenanya, teks yang saya maksudkan disini bukanlah sebatas ‘teks’ sebagai tulisan (bahasa) Namun ‘teks’ sebagai sebuah sistem tanda, dimana tanda-tanda tersebut saling berkaitan satu sama lain. hingga kemudian tanda-tanda tersebut mengandung ‘pesan’ tertentu. Saya tegaskan lagi bahwa tujuan dari penciptaan ‘teks’ ini adalah untuk menghadirkan realitas demi menyampaikan ‘pesan’ tertentu.

Misal saja dalam bentuk tulisan, kita bisa menghadirkan realitas yang telah kita alami tersebut lewat teks (sistem tanda) berupa huruf, kata, kalimat, paragraf, kohesi, maupun koherensi bahasa yang sekiranya mampu menjelaskan pemandangan bukit, langit, dan udara pegunungan.
Sedangkan dalam lukisan, diwujudkan dalam teks (sistem tanda) berupa garis, warna, gambar, dan objek lainnya yang sekiranya mampu menggambarkan pemandangan bukit, langit, dan udara pegunungan. Dan yang memiliki otoritas penuh dalam membentuk teks adalah sang pelukisnya sendiri. Teks inilah yang kemudian berakhir pada sebuah struktur pemaknaan.

Filsuf Yahudi asal Perancis, Jaques Derrida menegaskan bahwa sebuah teks memiliki wajah ganda. Ketika kita berpikir mengenai sebuah makna dan mengambil kesimpulan dari makna tersebut, seringkali di saat itulah lahir sebuah ‘makna lain’ yang berbeda dari makna yang telah kita ambil. ‘Makna lain’ itu yang seringkali tidak terpikirkan karena ia merupakan makna yang mungkin tidak dikehendaki sang pelukisnya.**

Orang yang melukis pemandangan pegunungan tadi bisa saja menghendaki makna lukisannya sebagai ‘bentuk kekaguman sang pelukis atas keagungan Tuhan menciptakan alam’. Sedangkan orang yang melihatnya berhak untuk memaknai lukisan tersebut sebatas ‘keindahan alam bukit, langit, dan udara’ saja. Orang yang lainnya pun berhak memaknainya sebagai ‘pelarian sejenak dari kepenatan Jakarta’. Atau bahkan ada pula yang memaknai lukisan tersebut sebagai ‘bukti kesombongan manusia yang ingin melebihi Tuhan, yakni dengan membuat lukisan pemandangan pegunungan sendiri.’

Tentu saja makna terakhir di atas merupakan makna yang berlawanan dan tak dikehendaki sang pelukis. Akan tetapi, dengan menunjukkan keberadaan ‘makna lain’ itu sudah membuktikan bahwa pemahaman kita terhadap sebuah lukisan atau teks tidak pernah tunggal dan berpotensi punya penafsiran baru yang kerap kali tak terduga.

Lalu kalau sudah begini, dimana kita sebagai publik mesti memosisikan sang pelukis atas karyanya? Dimana posisi Leonardo da Vinci atas senyum asing dalam ‘Monalisa’-nya? Bagaimana nasib Salvador Dali atas multi tafsir ‘The Sleeping Rock’-nya? Juga Basuki Abdullah, Affandi, atau Agus Suwage atas karya lukisnya.

Saya jawab, kini pelukis telah mati.*** Tak ada lagi otoritas karena lukisan tak ubahnya bak sebuah dunia kecil yang berdiri sendiri dan terpisah. Publik pun bebas bertafsir, karena tak ada lagi makna tunggal. Pada akhirnya, kita pun bisa memandang sebuah lukisan tak ubahnya bagaikan tempat dimana pelukisnya telah dikuburkan. Pelukis yang kini terkubur dalam lukisan yang ia buat sendiri.

Maka kepada para pelukis, saya hanya berpesan jaga diri kalian baik-baik. Saya sendiri sebagai penulis telah melihat kematian saya dalam teks esai yang saya buat ini, dan anda pembaca kelak menafsirkannya dengan berbagai cara.

Meski begitu, kematian ini tak perlu kita lihat secara pesimis. Sebab esai ini ditulis bukan untuk ‘membunuh’ sang pelukis sekali lagi, tapi saya menuliskannya dengan semangat pembelaan terhadap ‘makna lain’ atas tafsir suatu lukisan. Saya percaya, keberadaan ‘makna lain’ itulah yang membuat suatu lukisan menjadi lebih kaya untuk diapresiasikan. Tapi tak berarti lukisan itu sepenuhnya dibentuk oleh kematian sang pelukis, karena sang pelukis tetap hadir, meskipun ia tak seratus persen menguasai teks yang dibuatnya.

Dan mulai sekarang, pembaca sebaiknya bisa lebih waspada dalam menghadapi suatu teks. Meski sang pelukis (ataupun penulis seperti saya disini) telah mati dan terkubur dalam teksnya sendiri, kelak kami masih bisa menghantui.[ ]

Catatan Belakang:

*) Licentia Poetica adalah hak yang diberikan oleh konvensi bahasa kepada sang pengarang demi konvensi sastrawi. Dan tentu saja hak ini mesti diserta alasan dan ruang lingkup yang jelas, sebab jika tidak, licentia poetica ini bisa saja digugurkan.
**) Derrida sendiri mengembangkan term ‘dekonstruksi’ sebagai strategi membongkar teks dengan menemukan makna-makna yang bertentangan (ambivalensi) yang terkandung dalam sebuah teks. Karena itu, jika sebuah teks didekonstruksi, yang dihancurkan bukanlah makna, tetapi klaim bahwa satu bentuk pemaknaan terhadap teks lebih benar ketimbang pemaknaan lain yang berbeda.
***) Istilah ini saya gubah dari ‘The Dead of The Author” (Kematian Sang Pengarang –pen), sebuah kalimat terkenal dari ahli post-strukturalisme R. Barthes yang mengacu pada kematian sang pengarang atas teks sastra yang telah diterbitkannya. Dalam konteks posmodernisme, kematian sang pengarang ini menjadi dasar bagi perkembangan ilmu semiotika, hermeneutika, filsafat analitik, dan analisis wacana.



Referensi:
Agus R. Sarjono, Bahasa dan Bonafiditas Hantu, Yayasan IndonesiaTera, Magelang, 2001
Muhammad Al-Fayyadl, Derrida, LKiS, Yogyakarta, 2005

0 Comments:

ayo gabung di KMB . . .

Subscribe to menulis_bogor

Powered by us.groups.yahoo.com

 

blogger templates 3 columns | Make Money Online