sini biar kubantu cari

AWAS!!! BAHAYA LATEN INTERNET BAGI OTAK ANDA// AWAS!!! BAHAYA LATEN INTERNET BAGI OTAK ANDA// AWAS!!! BAHAYA LATEN INTERNET BAGI OTAK ANDA// AWAS!!! BAHAYA LATEN INTERNET BAGI OTAK ANDA// AWAS!!! BAHAYA LATEN INTERNET BAGI OTAK ANDA// AWAS!!! BAHAYA LATEN INTERNET BAGI OTAK ANDA// AWAS!!! BAHAYA LATEN INTERNET BAGI OTAK ANDA//

01 Agustus 2008

Bahasa Indonesia Terancam



Saya ingat suatu peristiwa saat upacara bendera setiap hari senin selama 12 tahun saya menempuh pendidikan formal. Entah mengapa kata “Indonesia” dalam lagu kebangsaan ‘Indonesia Raya’ ramai-ramai dinyanyikan dengan lafal “e”, yaitu “Endonesia.. tanah air ku..(dan seterusnya)”.

Padahal jelas-jelas huruf ‘i’ dalam kosakata bahasa Indonesia dibaca ‘i’, bukan ‘ai’ atau ‘e’. Sampai sekarang saya bahkan masih menemukan orang yang melafalkan ‘Indonesia’ dengan bunyi ‘Endonesia’.

Penemuan saya akan kerancuan berbahasa ini berlanjut demikian. Suatu hari saya ditertawakan beberapa rekan saat mengeja TV, VCD, dan DVD menjadi te-ve, ve-ce-de, dan de-ve-de. Alih-alih tersinggung, saya harus menerima itu sebagai sesuatu yang wajar jika saya ditertawakan, sebab memang ketiga kata tersebut bukan termasuk dalam kosakata bahasa Indonesia. Kata-kata tersebut memang berasal dari kata bahasa asing yaitu Television (TV), Video Compact Disk (VCD), dan Digital Video Disk (DVD).

Namun di lain hal, saya mempertanyakan pelafalan kata yang sudah dianggap lazim seperti kata HP untuk Handset Telephone, dan WWF untuk World Wildlife Foundation. Kedua kata tersebut tampaknya sah-sah saja saat dilafalkan ha-pe, dan we-we-ef. Bukannya saya lantas merasa tidak adil, tetapi rumusan mana yang sebaiknya kita taati bersama?

Adakah peraturan dalam berbahasa Indonesia yang mampu menertibkan kedua contoh kasus diatas?

Masuknya budaya asing –termasuk bahasa– ke Indonesia bisa berarti ikut memperluas wawasan kita akan dunia yang sedang bergerak maju di luar sana. Istilah-istilah asing yang tidak dapat kita temui dalam kosakata bahasa Indonesia, tentu akan memperkaya kosakata bahasa Indonesia dalam mendefinisikan sesuatu hal.

Tetapi ada baiknya juga kita mempertimbangkan dampak kurang baik yang muncul belakangan. Misal saja, kata ‘award’ lambat laun menggusur penggunaan kata ‘anugerah’, kini ‘mandeg’ lebih gengsi disebut ‘stuck’, kata ‘gaya hidup’ sudah jarang digunakan karena digusur kata ‘lifestlye’, dan lain sebagainya.

Situasi ini justru berkebalikan dengan situasi berbahasa di Indonesia saat awal Sumpah Pemuda diikrarkan dan pemerintahan RI pertama dibentuk. Para pakar, kaum intelektual, ahli bahasa, munsyi, dan sastrawan saat itu giat menciptakan bentukan kata baru dan bentukan kata serapan atas suatu istilah dari kata-kata asing. Sebut saja ‘hore’ (hurray), ‘peluit’ (flute), ‘mesti’ (must), ‘peri’ (fairy), ‘dokar’ (dog car), ‘sama’ (same), ‘justru’ (just true), dan lain sebagainya.

Saya rasa Indonesia saat ini butuh orang-orang kreatif menciptakan bentukan kosakata baru dan punya niat melestarikan bahasa Indonesia seperti orang-orang yang saya sebutkan tadi. Bukannya apa-apa, tetapi nasib bahasa Indonesia akan lebih menyedihkan bila suatu hari bakal terpinggirkan di negerinya sendiri.

Perhatikan saja dunia politik dan pers kita belakangan ini, istilah-istilah asing seperti money politics, walk out, dan mark up yang diungkapkan para politikus kita tercinta mentah-mentah saja dimuat di halaman suratkabar tanpa diserap atau disertakan padanan katanya.

Sebegitu miriskah nasib bahasa Indonesia di awal awal abad 21 ini, hingga kecenderungan pemakaian bahasa asing (khususnya Inggris) meningkat? Atau ini memang sudah menjadi pemandangan biasa dimana terjadi percampuran antara bahasa asli dengan bahasa asing, seperti halnya yang terjadi di Singapura dengan bahasa gado-gado rasa Singlish-nya?

Berikut ini adalah kutipan pendapat (alm) Dr. Soedjatmoko dalam Kongres Bahasa Indonesia III yang digelar di Jakarta pada November 27 tahun silam:

“Ada kecenderungan yang makin meningkat antara sarjana-sarjana Indonesia untuk ‘meloncat’ ke bahasa Inggris dalam pembicaraan-pembicaraan diantara mereka sendiri saat mendiskusikan masalah-masalah ilmiah yang sulit.”

Ia lalu berkata demikian, “Kita harus menjaga supaya kita tidak kembali kepada hierarki bahasa di zaman kolonial; dimana bahasa daerah menjadi bahasa paling rendah, yaitu sebagai bahasa pergaulan antar keluarga dan antar sahabat; bahasa Melayu sebagai bahasa komunikasi yang lebih luas pada tingkat kedua; dan bahasa Belanda untuk maju, untuk menguasai ilmu pengetahuan modern, dan untuk masuk ke dalam golongan elite bumiputera.”

Dari suara Soedjatmoko tersebut bisa kita lihat bahwa kebiasaan ‘menginggris’ (meloncat ke bahasa Inggris dalam percakapan) diantara masyarakat Indonesia sudah berlangsung sekian lama. Berbagai upaya penyembuhan telah banyak dilakukan. Diskusi bahasa dan permasalahannya pun tak pernah absen digelar setiap bulan Oktober, bulan bahasa dan sastra. Di pertengahan tahun 2005, budayawan Remy Sylado merasa perlu menerbitkan satu lagi buku kumpulan esai bahasa berjudul ‘Bahasa Menunjukkan Bangsa’ yang seringkali ditulisnya dengan nada sinis, untuk kembali mengingatkan masyarakat akan penyakit bahasa tersebut.

Saya pribadi menyadari ini saat sedang asyik di rumah, menyaksikan sajian Headline News dan Metro Showbiz News yang kebanyakan malah berisikan berita-berita dalam negeri, sambil mendengarkan album ‘Breakthru’-nya Nidji versi bahasa Inggris. Pelunturan bahasakah yang sedang terjadi atau mereka melakukan ini sekedar gagah-gagahan biar kelihatan sedikit bergengsi, intelek, dan sebagainya?

Akhir kata, saya tegaskan bahwa tulisan ini tidak dimaksudkan untuk melebih-lebihkan rasa nasionalisme atau chauvinisme apapun. Saya hanya menggambarkan sebuah situasi dimana suatu bahasa sedang menuju kepunahan jika situasi tersebut dibiarkan begitu saja berlarut.

Saya pun mengakui manfaat bahasa Inggris demi kelancaran komunikasi global antar bangsa dan negara di dunia. Tapi alangkah membosankannya dunia bila semua bangsa dunia secara seragam menggunakan satu bahasa saja. Bukankah keberagaman merupakan sesuatu yang indah?!

Baca Selengkapnya..

ayo gabung di KMB . . .

Subscribe to menulis_bogor

Powered by us.groups.yahoo.com

 

blogger templates 3 columns | Make Money Online