sini biar kubantu cari

AWAS!!! BAHAYA LATEN INTERNET BAGI OTAK ANDA// AWAS!!! BAHAYA LATEN INTERNET BAGI OTAK ANDA// AWAS!!! BAHAYA LATEN INTERNET BAGI OTAK ANDA// AWAS!!! BAHAYA LATEN INTERNET BAGI OTAK ANDA// AWAS!!! BAHAYA LATEN INTERNET BAGI OTAK ANDA// AWAS!!! BAHAYA LATEN INTERNET BAGI OTAK ANDA// AWAS!!! BAHAYA LATEN INTERNET BAGI OTAK ANDA//

27 September 2008

RESENSI BUKU SIHIR PEREMPUAN

oleh Pry S.



Judul Buku: Sihir Perempuan (Kumpulan Cerpen)
Penulis: Intan Paramaditha
Penerbit: KATAKITA
Cetakan: I, 2005
Harga: Rp 30.000,-

Sosok manusia seperti apa yang akan terbersit di benak kita saat disodori kata ‘sihir’? Bisa jadi ia adalah sosok mistis dengan sorot mata tajam, rambut kaku kusam dan awut-awutan. Dengan jubah hitam dan topi kerucut panjang, ia juga mesti punya kemampuan magis, guna-guna atau voodoo, dan kalau perlu lengkap dengan sapu ajaibnya sekalian.

Lebih menariknya lagi, kata ‘sihir’ seringkali dihubungkan dengan sosok perempuan. Mengapa perempuan? Mengapa dalam lazimnya cerita-cerita dongeng hanya ada nenek sihir, tapi tidak ada istilah kakek sihir? Persoalan bias genderkah yang tengah berlaku, atau perempuan memang tercipta ke dunia lengkap dengan berbagai mitos dan cerita ‘seram’ yang melingkarinya?

Menyimak kumpulan cerpen ‘Sihir Perempuan’ karya Intan Paramaditha, kita akan menemukan berbagai pembongkaran mitos dan cerita ‘seram’ seputar perempuan, sebagai kerangka cerita kesebelas cerpen yang dapat dikategorikan ber-genre horror ini. Lancar saja Intan membangun jalinan cerita, bak seorang ibu yang sedang mendongeng untuk anaknya. Simak saja pembukaan cerpen berjudul ‘Perempuan Buta Tanpa Ibu Jari’ berikut ini:

Mari, mari, Nak. Duduk di dekatku. Yakinkah kau ingin mengetahui bagaimana aku menjadi buta? Ah, ceritanya mengerikan sekali, nak. Terlalu banyak darah tertumpah seperti saat hewan dikurbankan (hal 27).

Lewat cerpen tersebut pula, Intan hendak mengoreksi dongeng klasik Cinderella seraya membalikkan seluruh mitosnya dengan nada satir: …seperti yang telah kuduga sebelumnya, diam-diam Larat didatangi perempuan halus itu di loteng berdebu. Cerita yang sama seperti yang pernah kau dengar? Nah, kini akan kuberi tahu apa yang berbeda (hal 28). Dan Cinderella pun disulap jadi Sindelarat dalam bingkai narasi berbeda dengan akhir cerita mencekam.

Membaca cerpen selanjutnya, identifikasi kita atas tokoh-tokoh perempuan ‘sihir’ rekaan Intan muali terkuak jelas. Ada kisah pembunuh (Mak Ipah dan Bunga-Bunga), seorang copywriter iklan sebuah perusahaan dengan kuntilanak penyuka darah (Darah), hingga legenda Ratu Laut Kidul yang digarap dengan latar abad 21 (Sang Ratu).

Cepat atau lambat, kita akan segera menyadari benang merah dari keseluruhan cerita, yakni posisi Intan sebagai pengarang yang menempatkan sudut pandangnya lewat kacamata perempuan. Seperti yang diungkap kritikus sastra Manneke Budiman dalam diskusi buku ini di kampus FIB UI Depok 8 Juni 2005, bahwa sudut pandang perempuan berperan sentral menjadikan genre kisah hantu ini lebih sebagai sarana penyampaian pesan, daripada sekedar urusan bentuk penceritaan. Ini bisa kita simak dalam cerpen ‘Darah’ yang mengisahkan fenomena haid seorang tokoh perempuan bernama Mara. Kutipan berikut adalah salah satu contohnya:

Ya, kini aku menghabiskan satu bugnkus pembalut dalam satu setengah hari. Tubuhku cucian yang diperas hingga kering, dan yang tersisa tinggal perut berongga, seperti spons, tertusuk jarum.
Tus.
Tus.
Tus. (hal 123)

Sebagai kesimpulan, membaca kisah-kisah cerpen di buku ini kita tidak hanya hanyut dalam dunia ‘sihir’ rekaan pengarang. Lebih dari sekedar kisah bergenre horror, ‘Sihir Perempuan’ adalah relevansi antara dunia khayal dengan kehidupan nyata di mana benih emansipasi perempuan lahir dari pertentangannya dengan budaya patriarki.

Jika ada yang beranggapan bahwa gerakan feminisme seperti menampar muka partiarki dari depan, maka ada pula yang yang bilang bahwa Intan cukup menepuk bahunya dari belakang. Dan Intan melakukan itu dengan menyihir pembaca lewat cerita pendeknya.

Kalaupun ada yang dirasa kurang dari buku ini, salah satunya mungkin karena tiadanya prakata dari Intan sendiri, kecuali petikan puisi karya Anne Sexton berjudul ‘Her Kind’ di bagian awal buku. Padahal lewat prakata, pembaca akan mendapatkan informasi lebih di balik penciptaan karya-karya Intan yang mengaku dirinya terobsesi dengan figur ibu, darah, dan kegelapan.

Catatan:Anne Sexton adalah penyair pada puncak gerakan feminism dari Amerika pasca perang dunia II. Karyanya banyak mengangkat topik tentang perempuan seperti kelahiran bayi, tubuh perempuan, atau perkawinan dilihat dari sudut pandang perempuan. Dalam puisinya ‘Her Kind’, Sexton terlihat bersimpati dengan stereotip masyarakat akan perempuan sihir yang pantas dibakar di tiang gantungan.

Baca Selengkapnya..

02 September 2008

MENAFSIRKAN LAGI NARSIS


oleh Pry S.


Apa itu ‘narsis’? Kata apakah? Mahluk darimana ia, sehingga kita gemar menyebut-nyebutnya di kampus, di mall, di curhatan kamar tidur, hingga ke ruang-ruang praktik dokter kelainan jiwa?

“Narsisme adalah perasaan cinta terhadap diri sendiri yang berlebihan. Orang yang mengidap narsisme memang tidak selalu percaya diri di depan umum, namun bisa juga ditunjukkan dengan suka memfoto diri sendiri. biasanya orang yang narsis adalah seorang model, karena mereka sering sekali mendapat pujian dan itu menyebabkan mereka merasa percaya diri dan akhirnya berlebihan.”

Demikian uraian di atas saya kutip mentah-mentah dari laman wikipedia.com, yang tentu saja dimaksudkan si penulisnya sebagai definisi dari kata ‘narsis’ dan ‘narsisme’.

Berikut ini juga akan saya tampilkan keterangan dari seorang Psikolog Emphaty Development Center (EDC) Univ Indonesia. Menurut dokter tersebut, ada delapan ciri orang yang tergolong narsis, yaitu: (1) Orang narsis merasa lebih penting dan besar dibanding orang lain, contohnya dia merasa paling hebat dalam hal prestasi, bakat dan karir; (2) Punya fantasi untuk mencapai sukses dan kekuasaan yang sangat tinggi, walaupun hal itumustahil untuk bisa dicapai; (3) Merasa dirinya begitu unik dan beda dengan yang lainnya, yakni merasa lebih tinggi statusnya serta mengaku lebih cantik atau ganteng dibanding orang lain.

(4) Selalu merasa butuh pengakuan yang berlebihan dari orang lain; (5) Mereka selalu berharap yang tak masuk akal untuk diperlakukan oleh orang lain,meski dirinya sebnarnya tak istimewa; (6) Cenderung manipulatif dan selalu mengeksploitasi orang lain untuk kepentingan dirinya; (7) Tidak bisa berempati pada orang lain, tidak akan merasa peduli dengan apa yang menimpa orang lain; dan (8) Selalu arogan.

Hingga akhirnya, disebutkan bahwa jika kita merasa punya lebih dari 4 ciri-ciri di atas di atas, berarti kita sudah tergolong narsis. Dan singkatnya sih, dokter yang juga dosen di Univ Tarumanegara itu mengatakan bahwa narsisme termasuk sebagai gangguan kejiwaan. Wah, serem juga nih, Boy!

Berhubung penjelasan di atas belumlah memuaskan, saya coba meluncur langsung ke sumber tempat asalnya kata narsis ini mucul. Dari sumber tersebut dijelaskan bahwa kata narsis pertama kali digunakan dalam kisah mitologi Yunani Kuno berabad-abad silam. Mitologi tentang narsis ini ternyata memiliki beberapa versi berbeda. Versi yang akan saya gunakan di sini adalah naskah roman karya Ovid yang berjudul ‘Methamorphoses’. Versi ini sendiri merupakan versi tertua yang banyak dikutip kalangan luas, termasuk juga kalangan seniman dunia, yakni versi populer yang dikenal kebanyakan orang sampai sekarang.

Norcissus dari Boetia
Adalah Narkissos, Narcissi atau lebih banyak dikenal sebagai Narcissus, yakni seorang perempuan muda nan rupawan yang tinggal di kota Boetia, Yunani Kuno. Meski ia seorang perempuan, Narcissus gemar berpenampilan seperti anak laki-laki. Hingga suatu hari seorang pemuda bernama Armeinias menyatakan cintanya kepada Narcissus.

Alih-alih menerima pernyataan cinta Armeinias, Narcissus malah menghadiahkan sebilah pedang sambil menolak cinta pemuda itu. Pedang tersebut kelak digunakan Armeinias untuk bunuh diri di hadapan Narcissus. Armeinias yang sekarat sakit hati pun berdoa kepada Dewa Nemesis agar suatu hari nanti Narcissus akan merasakan kepedihan yang sama pula; cinta yang ditolak dan menghadapi kematian.

Doa tersebut kemudian menjadi kutukan bagi Narcissus. Kutukan ini mulai menimpa Narcissus ketika suatu hari ia terpikat dengan seorang pemuda tampan yang dilihatnya di sebuah kolam. Pemuda tersebut begitu memesonakan Narcissus dan membuatnya merasa begitu jatuh cinta, sehingga ia pun betah berhari-hari berada di kolam itu hanya untuk menikmati ketampanan wajah sang pemuda idaman.

Hingga pada akhirnya Narcissus sadar bahwa wajah pemuda tampan itu tak lain adalah bayangan wajahnya sendiri dari pantulan permukaan air kolam. Kian hari Narcissus malah kian terjebak dalam perasaan cinta pada bayangan wajahnya sendiri. Narcissus jadi tak bisa mencintai orang lain selain bayangan dirinya sendiri. Kutukan itu pun berakhir dengan kematian Narcissus yang menusukkan pedang ke perutnya sendiri, cara kematian yang sama seperti Armeinias dulu.


Menafsirkan Lagi Narsisme
Dari mitologi di atas, sekilas kita jadi bisa mengerti kenapa kata narsis dilekatkan pada orang yang memiliki kecenderungan untuk mencintai dirinya sendiri. Namun ketika narsis dilekatkan pada citra buruk dan negatif, bahkan dianggap gangguan kejiwaan oleh para dokter sok tau itu, saya mulai curiga bahwa mitologi Narcissus atau narsisme di tengah-tengah masyarakat kita sekarang telah mengalami peyorasi.

Saya sendiri memandang bahwa kisah Narcissus mengandung mitos yang hendak menyampaikan sesuatu pesan dari masa lampau. Dan mitos itu sendiri merupakan cara kebudayaan dalam menjelaskan fenomena kehidupan. Karenanya, alih-alih ikut memandang narsis secara negatif, pada kesempatan ini saya justru hendak menunjukkan penafsiran lain demi menyingkap bagaimana sebenarnya kandungan pesan dalam mitos Narcissus tersebut. Dan untuk mengetahui pesan tersebut, saya akan mencermati sejumlah simbol yang ada dalam kisah cinta Narcissus, yakni simbol (1) diri sendiri; (2) cinta; dan (3) kematian.

DIRI SENDIRI. Hal ini jelas mengacu pada jati diri manusia yang direpresentasikan oleh si Narcissus. Setiap manusia tentu memiliki jati diri yang mengada dalam dirinya. Yang patut dicatat ialah, jati diri seorang manusia tidaklah hadir dengan sendirinya. Jati diri seorang manusia justru mesti disingkap, dibentuk, dan ditemukan oleh si manusia itu sendiri.

Mengutip gagasan seorang filsuf eksistensialisme Perancis yang berkata ‘man is nothing else but what he makes of himself’. Hingga kelak, kita manusia akan terus menerus mencipta diri ini seperti apa yang kita kehendaki atas diri kita sendiri.

Dalam kata lain, menyoalkan jati diri sama halnya seperti kita mempertanyakan dalam hati ‘siapa diri saya ini sesungguhnya? Untuk mejawabsiapa diri kita sesungguhnya tentu tidak sesederhana menunjukkan kartu identitas, menyebutkan tanggal lahir, asal suku, atau agama yang kita anut. Saya pribadi percaya bahwa pencarian jati diri seorang manusia adalah sebuah proses yang tak bisa cepat-cepat selesai. Ia bak sebuah perjalanan yang kita lakukan demi menemukan jati diri kita sendiri.

CINTA. Tidaklah keliru bila kita hendak mengartikan cinta sebagai sesuatu yang muncul setelah rasa sayang melebur dengan rasa benci dalam satu ikatan ruang dan waktu. Yakni di mana kedua rasa yang saling oposisional tersebut melebur dan memunculkan cercapan rasa yang khas dalam perjalanan rasa. Kedua rasa tersebut merupakan titik tolak penting bagi kemunculan cinta. Dan Narcissus pun dikisahkan telah menemukan cintanya.

Kaitannya dengan diri sendiri, adalah saat kita menemui apa yang kita sayangi dan kita benci dari diri kita sendiri. Mencinta juga menyiratkan bahwa kita selalu dihadapkan pada segala kelebihan dan kekurangan yang ada pada diri kita sebagai seorang manusia. Penemuan kedua hal tersebutlah yang bila kita terima akan melahirkan perasaan cinta akan diri sendiri, sebuah penerimaan akhir nan bijak terhadap segala kekurangan dan kelebihan kita sendiri.

Berangkat dari hal inilah jati diri manusia terus berproses sepanjang hidupnya. Bergulat di antara keburukan dan kebaikan, kekurangan dan kelebihan, rasa sayang dan rasa benci terhadap diri sendiri. dan kita akan terus menerus belajar dari kedua hal itu. Sang Narcissus pun menemukan perjalanan jati dirinya sendiri dengan belajar menemukan cinta – dalam dirinya dan terhadap dirinya sendiri. Maka dengan mencintai diri sendiri, Narcissus akhirnya menerima dan memahami siapa dirinya sendiri.

Simbol terakhir adalah KEMATIAN. Sebuah tragedi agung yang pasti akan kita alami di penghujung nafas nanti. Ya, semua orang pasti mati. Kita memang tidak tahu pasti apa yang bakal terjadi pada diri kita setelah maut menjemput nanti. Tapi di titik inilah jati diri kita sebagai seorang manusia berakhir. Ia merupakan kesimpulan akhir dari perjalanan jati diri kita hidup di dunia.

Dan saat maut menjemput nanti, pertanyaan ‘siapa diri kita sesungguhnya’ dapat kita jawab dengan menyimak bagaimana kita menyayangi dan membenci diri kita sendiri semasa hidup. Dan dengan cara itulah Narcissus mati, dengan menemukan dirinya sendiri, yakni dengan satu cara: mencintai dirinya sendiri!

Penutup
Dari penafsiran ulang mitos Narcissus di atas, jelas bahwa narsisme bisa kita lihat secara positif. Bukan narsis yang peyoratif sebagai gangguan kejiwaan hingga perlu dijauhi, tetapi narsis sebagai upaya mencintai diri kita sendiri, menerima kelebihan dan kekurangan diri sendiri, hingga pada akhirnya kita dapat menemukan jati diri kita sendiri.

Maka kalau sudah begini, tunggu apa lagi. Ayo ber-narsis-lah dengan diri sendiri. Sebab narsisme jelas bukan semata sebagai gangguan kejiwaan, namun justru ia dapat jadi metamorfosis yang sempurna menuju masa depan kita kelak.[ ]

Baca Selengkapnya..

ayo gabung di KMB . . .

Subscribe to menulis_bogor

Powered by us.groups.yahoo.com

 

blogger templates 3 columns | Make Money Online