sini biar kubantu cari

AWAS!!! BAHAYA LATEN INTERNET BAGI OTAK ANDA// AWAS!!! BAHAYA LATEN INTERNET BAGI OTAK ANDA// AWAS!!! BAHAYA LATEN INTERNET BAGI OTAK ANDA// AWAS!!! BAHAYA LATEN INTERNET BAGI OTAK ANDA// AWAS!!! BAHAYA LATEN INTERNET BAGI OTAK ANDA// AWAS!!! BAHAYA LATEN INTERNET BAGI OTAK ANDA// AWAS!!! BAHAYA LATEN INTERNET BAGI OTAK ANDA//

27 Oktober 2008

Pemuda Kita dan Internet

Oleh Pry S.


Saya punya satu alasan penting kenapa kita sebagai kaum muda Indonesia patut merasa beruntung hari ini. Alasannya karena sekarang kita hidup di era majunya teknologi.

Dengan teknologi, kini kita bisa berkumpul, punya komunitas, dan berkomunikasi satu sama lain dengan cara yang tak sempat dirasakan oleh kaum muda Indonesia di zaman sebelumnya. Tekonologi ini yang kemudian kita kenal dan akrabi sebagai internet.

Saya jadi tergoda membayangkan kalau Mohammad Yamin dan kawan-kawannya masih hidup sampai sekarang. Bisa-bisa ia loncat dari kursinya kalau tahu ada yang namanya Sumpah Internet Pemuda (SIP) 2000, yakni peristiwa penting yang terjadi pada peringatan hari Sumpah Pemuda di tahun 2000.

Bila Sumpah Pemuda di zaman Moh Yamin dkk mesti mereka lakukan dengan menempuh perjalanan jauh ke gedung pertemuan pemuda di Jakarta, maka SIP 2000 dengan canggihnya mempertemukan para pemuda dan pelajar dari 8 kota besar di Indonesia secara serentak tanpa perlu hadir secara fisik.

Untuk berpartisipasi dalam acara itu, mereka cukup duduk manis di depan layar komputer masing-masing yang terhubung internet. Peringatan Sumpah Pemuda lewat internet pun bisa langsung mereka ikuti dengan mudahnya dari kotanya.

Ya memang, cukup semudah itu fasilitas yang ditawarkan teknologi internet bagi kaum muda kita sekarang. Dan kemudahan itu hendaknya bisa memicu semangat kita untuk memberikan kontribusi yang lebih baik lagi untuk bangsa kita, lebih dari yang pernah dilakukan Moh Yamin dkk di tahun 1928.

Dalam hal inilah saya melihat satu peluang yang sesungguhnya tersedia di depan mata, dan menunggu untuk kita raih. Peluang ini muncul seiring meluasnya penggunaan blog di kalangan pemuda Indonesia saat ini.

8 tahun berlalu setelah SIP 2000 dicanangkan, di tahun 2008 ini hampir setiap anak muda Indonesia punya blog pribadi. Kebanyakan diantaranya berisi catatan harian, renungan pribadi, dan berbagai artikel menarik hasil karya mereka sendiri.

Bahkan di pertengahan tahun ini pula (24 Agustus 2008), para blogger di Kota Bogor yang kita cintai ini bersepakat untuk menyatukan diri dalam sebuah wadah kreativitas bernama Blogor, alias Komunitas Blogger Bogor.

Dengan hadirnya Blogor, maka lengkap sudah wahana kreativitas yang tersedia bagi kita semua selaku kaum muda Kota Bogor untuk meraih peluang itu bersama-sama. Sebuah peluang yang menyiratkan arti penting bahwa kaum muda merupakan ujung tombak dari kemajuan suatu bangsa.

Nah, saya pikir inilah tantangan ke depan buat Blogor dan kita semua, yakni tantangan untuk mengarahkan para pemuda dan pelajar Kota Bogor untuk menjadi seorang blogger yang kreatif, peduli politik, dan peka akan permasalahan lingkungan sosialnya.

Mari kita hindari anggapan bahwa blogger itu negatif dan internet itu isinya cuma game dan pornografi. Ayo kita semua jadi blogger yang positif dalam berkontribusi untuk bangsa kita. Hidup Pemuda Indonesia!


*) Artikel ini diposting untuk mengikuti 'Lomba Menulis dalam rangka Hari Blogger Nasional dan Sumpah Pemuda' yang diadakan Komunitas Blogor

Baca Selengkapnya..

17 Oktober 2008

BELAJAR DARI KRISIS AMERIKA

oleh Pry S.

Beberapa waktu lalu kita dikejutkan kabar tentang ambruknya perekonomian Amerika Serikat. Kita saksikan pula betapa sejumlah perusahaan rak­sasa di negara itu satu persatu men­dadak bangkrut.

Tak heran bila seluruh dunia pun tercengang. Negara yang kita lihat begitu kuat secara ekonomi, politik dan militernya, kini malah tak berdaya menghalau laju krisis keuangannya sendiri untuk jangka waktu yang tak bisa dipastikan ka­pan berakhir.

Kepanikan massal pun melanda. Harga saham dunia bertumbangan, nilai tukar mata uang anjlok, inves­tor berlomba-lomba menyelamat­kan diri, jutaan nasabah menyerbu bank, para pemimpin dunia mera­patkan barisan menghadapi ber­bagai kemungkinan buruk yang da­pat terjadi di masa mendatang bagi negaranya sendiri.

Sampai-sampai, jajaran Kabinet Indonesia Bersatu pimpinan Presi­den SBY menggelar pertemuan serius dan tak biasa antara pemerin­tah, para pengusaha dan pemimpin media massa demi membahas per­soalan yang satu ini.

Apa yang sesungguhnya tengah terjadi? Betulkah AS kini tengah berada di penghujung kejayaannya? Mengapa krisis yang menimpa di negeri jauh sana membuat kita yang ada di sini menjadi ikut-ikutan repot? Patutkah ia kita persalahkan sebagai biang keladi dari krisis global ini? Dan mengapa kita perlu belajar dari peristiwa ini?

Dari Mana Datangnya Krisis
Sepanjang dari referensi yang bisa saya dapatkan, penjelasan tentang asal mula krisis ini terjadi saat tingkat suku bunga kredit perbankan di AS mencapai titik terendahnya bebera­pa tahun lalu. Sejak itulah penjualan rumah dengan harga kredit murah menjadi favorit dan marak digelar di sana.

Namun tak lama berselang set­elah booming kredit rumah itu mun­cul, Bank Sentral AS pada Juni 2004 secara bertahap mulai menaikkan suku bunga yang kian hari posisinya nangkring kian tinggi. Ini membuat kredit sektor peru­mahan jadi ikut-ikutan naik. Harga kredit rumah yang tadinya sangat murah, justru berbalik jadi demikian mahal.

Tak pelak lagi, masyarakat seper­ti kehabisan tenaga untuk melunasi kreditnya dengan suku bunga yang tinggi. Kredit macet besar-besaran pun tak terelakkan. Hingga pada awal tahun 2007, sejumlah lembaga keuangan yang menopang modal kredit perumahan ini terpaksa membekukan bank aset perusahaannya karena terus merugi.

Pembekuan ini ternyata memancing para nasabah bank melakukan penarikan dana besar-besaran di pertengahan tahun 2007. Penarikan dana besar-besaran ini jelas bukan indikasi baik, sebab dana nasabah itulah yang selama ini digunakan AS untuk membiayai pasar modal­nya ke seluruh dunia.

Tak heran bila dampaknya justru meluas. Harga saham dunia di pasar modal rontok satu-persatu. Sejum­lah perusahaan (keuangan) raksasa yang sangat bergantung pada pasar modal pun mulai menyatakan pailit secara bergantian.

Kondisi merisaukan ini membuat Pemerintah AS terpaksa mengucurkan dana darurat (baca: dana utangan) demi menyelamatkan sejumlah perusahaan finansial lain yang beruntung masih bisa megap-megap di tengah krisis. Tak ketinggalan pula sejumlah Bank Sentral di berbagai negara Eropa berinisiatif menyuntik­kan dana segar ke pasar modal agar kembali berjalan normal.

Tapi yang terjadi selanjutnya bisa ditebak, krisis yang mulanya terjadi hanya di AS, dengan sekejap menular ke seluruh dunia bak virus yang bergerak sangat cepat. Kebangkrutan pasar modal dunia yang menerapkan sistem ekonomi terbuka dan saling terhubung antara negara satu dengan lainnya (global), dengan cepat pula menyeret negara-negara lain ke dalam bayang-bayang krisis yang sama.

Belajar dari Krisis AS
Ibarat karena nila setitik, rusak susu sebelanga. Dan di kolam susu inilah tampaknya warga dunia tengah menunggu kapan giliran nila itu datang dan benar-benar melumpuhkan sendi-sendi perekonomian di negaranya masing-masing, tak terkecuali kita di Indonesia.

Dan kini kita paham bahwa kon­disi yang cukup serius kali ini memang awalnya bermula dari krisis nasional di AS, yang kemudian menyebar dengan cepat ke seluruh dunia. Namun jelas bahwa ia bukanlah penyebab utamanya seperti yang dituding oleh sejumlah media (lihat ‘Runtuhnya Pusat Kapitalisme’, Editorial Harian Radar Bogor, 27/09/08).

Yang menjadi benang merah dari rentetan krisis ini justru adalah penerapan globalisasi dima­na roda perekonomian banyak nega­ra di dunia digantungkan. Sebab dalam sistem ekonomi global yang tengah dipraktikkan banyak negara saat ini, krisis yang dialami suatu negara akan menular bak virus ke negara-negara lain, khususnya bila krisis itu bermula dari negara-negara maju dan yang punya otoritas dalam peta perkonomian dunia.

Meski belum memiliki definisi yang mapan, istilah globalisasi banyak dihubungkan dengan peningkatan keterkaitan dan ketergantungan antarbangsa dan antarmanusia di seluruh dunia dunia melalui perdagangan, investasi, perjalanan, budaya populer, dan bentuk-bentuk interaksi yang lain sehingga batas-batas suatu negara menjadi bias (wikipedia.com).

Di alam globalisasi inilah, kesalingterhubungan dan kesalingbergantungan antara negara satu dengan negara lain terjalin begitu kuat. Dengan begitu, sebuah negara yang telah maju diharapkan akan merangsang perekonomian negara-nega­ra yang sedang berkembang lewat sistem pasar bebas yang saling terhubung dan kompetitif. Tak heran bila globalisasi dipercaya akan mampu mem­bawa kemaslahatan pada segenap umat manusia di dunia.

Sebuah niat yang kedengarannya cukup mulia memang. Dan sejak diterapkan pada era 80-an, globalisasi menjadi sistem ekonomi (mencakup juga aspek sosial, budaya, dan komunikasi) yang populer di banyak negara. Tak terkecuali bagi negara kita tercinta yang kala itu berada di bawah rezim Orde Baru.

Tapi dengan adanya krisis global ini, untuk pertama kalinya kita disa­darkan, betapa sistem globalisasi yang tengah dipraktikkan keban­yakan negara saat ini, ternyata juga berpotensi membawa umat manu­sia pada krisis berkepanjangan. Ditambah lagi betapa globalisasi ekonomi dunia kian hari kita lihat semu dan banal, yakni di mana triliunan dollar AS diperjualbelikan dan dipermainkan di pasar modal, tetapi hanya sebagian saja diantaranya yang benar-benar menyentuh sektor riil.

Dengan kondisi kesalingterhubungan dan kesalingbergantungan inilah globalisasi ekonomi menciptakan budaya ekonomi sebagai jaringan terbuka (open network) yang rawan terhadap kemacetan di suatu titik jaringan dan serangan virus ke seluruh jaringan. Serangan virus (semisal kemacetan likuiditas) di sebuah titik jaringan (seperti AS) dengan cepat menjalar ke seluruh jejaring global tanpa ada yang tersisa.

Maka di titik ini pulalah kita sadar betapa Indonesia sebagai salah satu peserta yang turut serta dalam sistem ekonomi global, cukup rentan terkena dampak krisis ini.

Yang Bisa Kita Lakukan
Sejatinya, krisis global ini memang lebih banyak berpengaruh pada industri keuangan, khususnya pasar modal. Ruang gerak pasar modal itu sendiri belum meluas bagi usaha dan bisnis yang dijalankan bagi kebanyakan masyarakat Indonesia.

Bisa disimak bahwa roda perekonomian di Kota Bogor sendiri lebih banyak digerakkan oleh sektor riil dan usaha kecil menengah (UKM). Kebanyakan dari mereka menjalankan usaha yang tak memiliki persinggungan langsung dengan investor, juga dikerjakan oleh SDM dari dalam negeri sendiri.

Karenanya, kita selaku warga Bogor patut menjadikan peristiwa krisis global saat ini sebagai momentum dalam mendukung segenap pelaku bisnis dan UKM kota Bogor. Sebab, sejarah negeri ini telah membuktikan bahwa para pelaku bisnis dan UKM-lah yang mampu bertahan ketika krisis menerpa Indonesia di tahun 1998.

Dan kepada merekalah kita bisa berharap krisis global kali ini takkan mampir ke Indonesia.

Baca Selengkapnya..

05 Oktober 2008

Laskar Pelangi, Sebuah Wacana Matinya Pendidikan


Oleh Pry S.

Mendengar frase ‘Laskar Pelangi’, benak kita tentu akan tertuju pada novel tetralogi karangan Andrea Hirata yang rilis tiga tahun lalu. Cukup tiga tahun saja memang, waktu yang dibutuhkan baginya untuk menjadi best seller di mana-mana, dan untuk dijadikan film oleh sutradara ternama yang kini tengah gencar diputar di berbagai bioskop tanah air.

Cukup tiga tahun saja untuk Andrea Hirata merangkak dari seseorang yang tak dikenal di ranah kesusastraan Indonesia, menjadi penulis muda yang kini jadi perbincangan di mana-mana. Cukup tiga tahun pula baginya untuk menjungkirbalikkan paradigma ‘pasar sastra’ dalam negeri dari pandangan sempit bahwa hanya ‘sastra ringan ala teenlit’ dan ‘sastra kelamin’ yang laku di pasar sastra saat ini.

Suksesnya Laskar Pelangi yang mengangkat kehidupan kaum pinggiran nan miskin dan terlupakan di Pulau Belitong (sekarang Provinsi Bangka Belitung) menjadikan tokoh Ikal, Lintang, Mahar dkk sebagai pahlawan-pahlawan baru menggantikan tokoh ‘si Cowok Idaman’ dalam kebanyakan karya teenlit atau tokoh ‘Nayla si Trauma Seks’ dalam kebanyakan sastra kelamin saat ini. Maka tak heran, bila sejumlah kritikus sastra memandang Laskar Pelangi sebagai fenomena baru, baik di ranah kesusastraan maupun perfilman nasional.

Tapi kawan-kawan pembaca yang budiman, kali ini saya memang tidak hendak mengulang-ulang lagi fakta kesuksesan Laskar Pelangi ataupun fakta-fakta lain yang telah kita ketahui bersama seperti di atas tadi. Lewat esai ini, saya lebih tertarik untuk menafsirkan muatan wacana penting nan ironis yang terdapat dalam episode pertama teralogi Laskar Pelangi, yakni mengenai SD Muhammadiyah yang kere, hampir roboh, dan terancam ditutup bila jumlah muridnya kurang dari 10 orang.

Dalam latar kisah sekolah rekaan Andrea inilah saya menemukan representasi mengkhawatirkan tentang praktik pendidikan formal di Indonesia yang –menurut hemat saya– kini tengah menuju pada ‘kematiannya’.

Pendidikan Yang Mana

Sejatinya, pendidikan formal bertujuan membawa manusia keluar dari kungkungan kebodohan (emansiparotis). Dengan menguasai ilmu pengetahuan secara sistematis, rasional dan bersifat ilmiah, manusia dituntut untuk meninggalkan segala sumber pengetahuan manusia di masa lalu seperti mitos dan tradisi yang tidak rasional dan takhayul.

Maka dengan segala intelektualitas dan pengetahuannya itu, seorang manusia terdidik diharapkan mampu mendapatkan pengetahuan yang lebih baik tentang dunia dan mencapai kehidupan yang lebih baik baginya di masa depan. Hal inilah yang direpresentasikan Andrea dalam Laskar Pelangi lewat tuturan tokoh orangtua Lintang pada kalimat berikut:

Ayahnya . . . menganggap keputusan menyekolahkan Lintang adalah keputusan yang tepat . . . ia berharap Lintang dapat mengeluarkan mereka dari lingkaran kemiskinan yang telah lama mengikat mereka hingga sulit bernapas.” (Laskar Pelangi, halaman 95)

Maksud kalimat ini tentu sangat jelas. Tokoh ayah dan ibu Lintang percaya bahwa dengan menyekolahkan anaknya tersebut, Lintang akan membawa nasib keluarganya menjadi lebih baik di masa depan. Semangat Lintang bersekolah juga digambarkan dengan menempuh perjalanan sejauh empat puluh kilometer dari rumahnya di Tanjong Kelumpang menuju sekolah menggunakan sepeda sejak subuh hari.

Tempat Lintang dan kawan-kawannya bersekolahpun direpresentasikan dengan ideal oleh Andrea. Di sekolah yang mirip ‘gudang kopra’ itu, pendidikan yang diajarkan SD Muhammadiyah tidak semata berdasarkan standar kurikulum nasional, tetapi juga pendidikan moral, budi pekerti dan agama.

Simak kutipan berikut yang merupakan komentar tokoh Ikal mengenai Bu Mus:

‘Beliau sendiri yang menyusun silabus pelajaran Budi Pekerti dan mengajarkan kepada kami sejak dini pandangan-pandangan dasar moral, demokrasi, hukum, keadilan, dan hak-hak asasi . . . Kami diajarkan menggali nilai luhur di dalam diri sendiri agar berperilaku baik karena kesadaran pribadi. Materi pelajaran Budi Pekerti yang hanya diajarkan di sekolah Muhammadiyah sama sekali tidak seperti kode perilaku formal yang ada dalam konteks legalitas institusional seperti sapta prasetya atau pedoman-pedoman pengamalan lainnya.’(LP, hal 30-31)

Dari kutipan di atas kita bisa mengambil kesimpulan, bahwa memang kualitas seseorang yang berpendidikan tidak hanya diukur dengan nilai ujian dan angka di rapornya. Pendidikan yang baik mestilah menyeimbangkan pelajaran ilmu pasti dengan tuntunan agama, perilaku moral dan budi pekerti. Dan pendidikan model begini tentu akan mencetak manusia-manusia yang tak hanya encer otaknya, tapi juga memiliki mentalitas yang baik di kepribadiannya.

Kawan-kawan pembaca tentu akan setuju dengan saya bahwa memang begitulah seharusnya pendidikan formal dipraktikkan. Dan Andrea, lewat fiksinya tengah mengimajinasikan sebuah sekolah dengan konsep pendidikan ideal yang sejalan dengan semangat emansipatoris tadi.

Andrea Hirata dan Masalah Pendidikan

Adalah Iwan Simatupang, seorang tokoh sastra angkatan 70 yang menghabiskan hari-hari terakhirnya di kota Bogor, mengatakan demikian: ‘Pengarang adalah produk kultural tanah airnya. Setiap karyanya, perbuatannya, pemikirannya, secara inhaerent memantulkan kembali pertautan dirinya dengan tanah air’ (2004:337)

Dalam kata lain, kehidupan seorang pengarang akan selalu dipengaruhi lingkungan sosial-budaya dan bangsa di mana ia hidup. Sehingga apapun persoalan yang tertuang dalam karyanya kelak, seringkali merupakan hasil refleksi pengetahuan dan pengalaman hidupnya atas lingkungannya.

Maka di sinilah saya hendak menempatkan Andrea sebagai seorang pengarang yang tentu tak lepas dari pengaruh lingkungannya. Khususnya mengenai cara pandang Andrea terhadap permasalahan pendidikan di Indonesia, yang kemudian direpresentasikannya dalam bentuk fiksi lewat Laskar Pelangi.

Di banyak referensi, kita akan menemui keterangan bahwa Andrea memiliki minat terhadap sains dan dunia pendidikan. Alih-alih sebagai novelis, ia mengaku lebih suka mengidentikkan dirinya sebagai seorang akademisi. Maka tak heran bila dalam Laskar Pelangi terdapat banyak kalimat dengan ‘bumbu-bumbu’ ilmiah yang dipadukannya dengan kisah-kisah sederhana nan memikat.

Menyimak halaman persembahan dalam buku Laskar Pelangi yang ditujukannya untuk dua orang guru masa kecilnya (Muslimah Hafsari dan Harfan Effeny Noor), tampak bahwa dua orang ini tak sekedar tokoh fiksi Laskar Pelangi dalam imajinasi Andrea, tapi juga ada dalam pengetahuan dan pengalaman hidup Andrea sebagai pengarang.

Maka bisa ditafsirkan pula bahwa Andrea merupakan anak ideologis hasil pendidikan ideal ala SD Muhammadiyah di Belitong. Tak keliru bila kita paham bahwa pendidikan ideal tersebut memang benar-benar ada di kehidupan nyata, khususnya kehidupan yang dialami Andrea.

Berangkat dari sinilah, saya menemukan fakta mengkhawatirkan tentang wajah pendidikan formal bangsa kita dewasa ini yang kian jauh dari representasi Andrea tentang pendidikan ideal. Alih-alih menjalankan fungsi emansipatorisnya, wajah pendidikan formal yang dipraktikkan bangsa ini adalah wajah yang bertopeng dalam kepura-puraan dan sangat menakutkan.

Matinya Pendidikan Kita

Sebelum kita melanjutkan bahasan berikut, perlu dipahami kawan-kawan pembaca bahwa kata ’mati’ yang saya gunakan di sini bukanlah kematian secara fisik, namun ia merupakan metafora yang saya gunakan untuk melukiskan kecenderungan di mana fungsi emansipatoris dalam pendidikan kian menjadi tumpul.

Ketumpulan ini bisa kita lihat dari kecenderungan institusi/ penyelenggara pendidikan di Indonesia kini tengah gencar memproduksi lulusan yang link and match dengan pasar dunia kerja. Sehingga dalam jenjang waktu pendidikan yang singkat, diharapkan para lulusannya bisa memiliki skill praktis dan dengan mudah diserap pasar tenaga kerja.

Jutaan pelajar lulusan sekolah menengah juga kini tengah mengimpi-impikan dapat di fakultas favorit, jenjang kuliah yang singkat, dan setelah lulus mudah mendapatkan pekerjaan. Langkah ini sekilas memang terlihat strategis, mengingat Indonesia hari ini masih dibebani dengan persoalan tingginya angka pengangguran dan kemiskinan.

Namun saya sebut ini sebagai ketumpulan fungsi emansipatoris pendidikan yang kelak akan berujung pada matinya pendidikan, sebab ia membuat kita lupa bahwa sekolah dibangun untuk menguasai dan mengembangkan ilmu pengetahuan, dan bukan sekedar untuk mempermudah manusia mendapatkan gelar, pekerjaan, jabatan di perusahaan atau pun bergaji besar. Maka tak heran pula bahwa biaya yang dibutuhkan seseorang untuk mengenyam pendidikan, tak bisa dibilang sedikit.

Kini kian jelas bahwa, pendidikan emansipatoris yang tadinya bertujuan membawa manusia keluar dari kungkungan kebodohan dan mencapai budi pekerti yang baik, kini mulai berbelok ke arah yang pragmatis nan materialistis.

Praktik inilah yang telah lama menyusup ke dalam ruang-ruang kelas kita, catatan-catatan pelajaran kita, buku-buku praktikum yang wajib kita baca, hingga menjangkit ke pola pikir kita yang memandang fungsi kegiatan pendidikan bukan lagi sebagai tindakan yang emansipatoris, tetapi terkapitalisasi untuk sekedar mencari duit dan menjadi robot-robot pekerja yang baik.

Sekali lagi saya tekankan betapa konsep pendidikan yang link and match seperti ini sebagai indikasi matinya pendidikan, sebab lahan kerja yang kelak menyerap tenaga kerja berpendidikan bertujuan pada orientasi bisnis perusahaan (baca: kapitalis) semata, dan bukan berorientasi pada perbaikan struktur dan kultural masyarakat Indonesia. Terlebih lagi, pendidikan link and match model begini, menurut hemat penulis akan semakin menghambat mental kepeloporan, kepemimpinan, kemanusiaan, spiritualitas, dan mentalitas-mentalitas generasi muda Indonesia masa depan.

Pendidikan yang seharusnya dibangun berlandaskan nilai-nilai objektivitas, keilmiahan (scientific), dan kebijaksanaan (virtue) sebagai nilai dasar dalam ilmu pengetahuan, kini dimuati oleh nilai-nilai komersial sebagai ajang pencarian keuntungan (profit) semata. Inilah wajah pendidikan kita yang lebih tunduk pada kekuasaan kapital daripada kebenaran ilmiah dan moral kebangsaan.

Penutup

Apa yang terungkap pada uraian di atas memang terasa ganjil, problematis dan ironis bagi kelangsungan generasi muda intelektual kita saat ini yang membutuhkan kejujuran dunia ilmu pengetahuan. Betapa tidak, kita semua –mau tak mau– adalah bagian dari anak-anak peradaban yang terlanjur lahir dalam sebuah pendangkalan, pemassalan dan komersialisme sebagai praktik pendidikan mutakhir bangsa ini.

Drama matinya pendidikan inilah yang saya tangkap dari pengalaman saya ketika membaca Laskar Pelangi. Sungguh-sungguh sebuah drama yang ditutup dengan ironi ketika tokoh Ikal bertemu dengan Lintang pada dua belas tahun kemudian. Lintang dengan kecerdasan mengagumkan seorang anak pesisir miskin, mesti mengujungkan nasibnya sebagai supir truk pasir di Belitong.

Walhasil, membaca Laskar Pelangi juga membawa saya hanyut dalam perasaan yang sama seperti yang tokoh Ikal ucapkan di penghujung novel ini:

‘Dan kata-kata itu semakin menghancurkan hatiku, maka sekarang aku marah, aku kecewa pada kenyataan begitu banyak anak pintar yang harus berhenti sekolah karena alasan ekonomi. Aku mengutuki orang-orang bodoh sok pintar yang menyombongkan diri, dan anak-anak orang kaya yang menyia-nyiakan kesempatan pendidikan.’ (LP, hal 472)

Maka sebagai penutup, dengan ditulisnya esai ini saya memang tidak sedang mengajukan pemikiran jitu nan tokcer demi mengatasi permasalahan pendidikan tersebut. Esai ini lebih berniat menjadi apresiasi bagi Andrea dan para sastrawan lainnya yang tak hanya lihat dalam berkata-kata, tapi juga peka dengan permasalahan dan kondisi zamannya.

Mungkin juga ini saatnya kita meninggalkan gaya menulis kita yang melulu berkisah tentang pencarian diri, cinta picisan, atau pun seks. Mari menulis seperti Andrea yang menulis novel tak hanya untuk diri sendiri dan pembaca, namun juga berkarya untuk membangkitkan kesadaran pembacanya akan perkembangan pendidikan di Indonesia.

Matinya pendidikan di Indonesia mungkin baru kita rasakan sebagian kecil saja, tapi jelas bahwa ia patut untuk diwacanakan secara luas. Kecuali pada suatu nanti di masa depan, siap-siap saja kita dengar lonceng kematian ilmu pengetahuan dan praktik pendidikan berkumandang; lonceng kematian yang dikumandangkan sebagai tanda kemenangan pasar atas wafatnya rasionalitas intelektual bangsa ini.***

Baca Selengkapnya..

ayo gabung di KMB . . .

Subscribe to menulis_bogor

Powered by us.groups.yahoo.com

 

blogger templates 3 columns | Make Money Online