sini biar kubantu cari

AWAS!!! BAHAYA LATEN INTERNET BAGI OTAK ANDA// AWAS!!! BAHAYA LATEN INTERNET BAGI OTAK ANDA// AWAS!!! BAHAYA LATEN INTERNET BAGI OTAK ANDA// AWAS!!! BAHAYA LATEN INTERNET BAGI OTAK ANDA// AWAS!!! BAHAYA LATEN INTERNET BAGI OTAK ANDA// AWAS!!! BAHAYA LATEN INTERNET BAGI OTAK ANDA// AWAS!!! BAHAYA LATEN INTERNET BAGI OTAK ANDA//

17 Oktober 2008

BELAJAR DARI KRISIS AMERIKA

oleh Pry S.

Beberapa waktu lalu kita dikejutkan kabar tentang ambruknya perekonomian Amerika Serikat. Kita saksikan pula betapa sejumlah perusahaan rak­sasa di negara itu satu persatu men­dadak bangkrut.

Tak heran bila seluruh dunia pun tercengang. Negara yang kita lihat begitu kuat secara ekonomi, politik dan militernya, kini malah tak berdaya menghalau laju krisis keuangannya sendiri untuk jangka waktu yang tak bisa dipastikan ka­pan berakhir.

Kepanikan massal pun melanda. Harga saham dunia bertumbangan, nilai tukar mata uang anjlok, inves­tor berlomba-lomba menyelamat­kan diri, jutaan nasabah menyerbu bank, para pemimpin dunia mera­patkan barisan menghadapi ber­bagai kemungkinan buruk yang da­pat terjadi di masa mendatang bagi negaranya sendiri.

Sampai-sampai, jajaran Kabinet Indonesia Bersatu pimpinan Presi­den SBY menggelar pertemuan serius dan tak biasa antara pemerin­tah, para pengusaha dan pemimpin media massa demi membahas per­soalan yang satu ini.

Apa yang sesungguhnya tengah terjadi? Betulkah AS kini tengah berada di penghujung kejayaannya? Mengapa krisis yang menimpa di negeri jauh sana membuat kita yang ada di sini menjadi ikut-ikutan repot? Patutkah ia kita persalahkan sebagai biang keladi dari krisis global ini? Dan mengapa kita perlu belajar dari peristiwa ini?

Dari Mana Datangnya Krisis
Sepanjang dari referensi yang bisa saya dapatkan, penjelasan tentang asal mula krisis ini terjadi saat tingkat suku bunga kredit perbankan di AS mencapai titik terendahnya bebera­pa tahun lalu. Sejak itulah penjualan rumah dengan harga kredit murah menjadi favorit dan marak digelar di sana.

Namun tak lama berselang set­elah booming kredit rumah itu mun­cul, Bank Sentral AS pada Juni 2004 secara bertahap mulai menaikkan suku bunga yang kian hari posisinya nangkring kian tinggi. Ini membuat kredit sektor peru­mahan jadi ikut-ikutan naik. Harga kredit rumah yang tadinya sangat murah, justru berbalik jadi demikian mahal.

Tak pelak lagi, masyarakat seper­ti kehabisan tenaga untuk melunasi kreditnya dengan suku bunga yang tinggi. Kredit macet besar-besaran pun tak terelakkan. Hingga pada awal tahun 2007, sejumlah lembaga keuangan yang menopang modal kredit perumahan ini terpaksa membekukan bank aset perusahaannya karena terus merugi.

Pembekuan ini ternyata memancing para nasabah bank melakukan penarikan dana besar-besaran di pertengahan tahun 2007. Penarikan dana besar-besaran ini jelas bukan indikasi baik, sebab dana nasabah itulah yang selama ini digunakan AS untuk membiayai pasar modal­nya ke seluruh dunia.

Tak heran bila dampaknya justru meluas. Harga saham dunia di pasar modal rontok satu-persatu. Sejum­lah perusahaan (keuangan) raksasa yang sangat bergantung pada pasar modal pun mulai menyatakan pailit secara bergantian.

Kondisi merisaukan ini membuat Pemerintah AS terpaksa mengucurkan dana darurat (baca: dana utangan) demi menyelamatkan sejumlah perusahaan finansial lain yang beruntung masih bisa megap-megap di tengah krisis. Tak ketinggalan pula sejumlah Bank Sentral di berbagai negara Eropa berinisiatif menyuntik­kan dana segar ke pasar modal agar kembali berjalan normal.

Tapi yang terjadi selanjutnya bisa ditebak, krisis yang mulanya terjadi hanya di AS, dengan sekejap menular ke seluruh dunia bak virus yang bergerak sangat cepat. Kebangkrutan pasar modal dunia yang menerapkan sistem ekonomi terbuka dan saling terhubung antara negara satu dengan lainnya (global), dengan cepat pula menyeret negara-negara lain ke dalam bayang-bayang krisis yang sama.

Belajar dari Krisis AS
Ibarat karena nila setitik, rusak susu sebelanga. Dan di kolam susu inilah tampaknya warga dunia tengah menunggu kapan giliran nila itu datang dan benar-benar melumpuhkan sendi-sendi perekonomian di negaranya masing-masing, tak terkecuali kita di Indonesia.

Dan kini kita paham bahwa kon­disi yang cukup serius kali ini memang awalnya bermula dari krisis nasional di AS, yang kemudian menyebar dengan cepat ke seluruh dunia. Namun jelas bahwa ia bukanlah penyebab utamanya seperti yang dituding oleh sejumlah media (lihat ‘Runtuhnya Pusat Kapitalisme’, Editorial Harian Radar Bogor, 27/09/08).

Yang menjadi benang merah dari rentetan krisis ini justru adalah penerapan globalisasi dima­na roda perekonomian banyak nega­ra di dunia digantungkan. Sebab dalam sistem ekonomi global yang tengah dipraktikkan banyak negara saat ini, krisis yang dialami suatu negara akan menular bak virus ke negara-negara lain, khususnya bila krisis itu bermula dari negara-negara maju dan yang punya otoritas dalam peta perkonomian dunia.

Meski belum memiliki definisi yang mapan, istilah globalisasi banyak dihubungkan dengan peningkatan keterkaitan dan ketergantungan antarbangsa dan antarmanusia di seluruh dunia dunia melalui perdagangan, investasi, perjalanan, budaya populer, dan bentuk-bentuk interaksi yang lain sehingga batas-batas suatu negara menjadi bias (wikipedia.com).

Di alam globalisasi inilah, kesalingterhubungan dan kesalingbergantungan antara negara satu dengan negara lain terjalin begitu kuat. Dengan begitu, sebuah negara yang telah maju diharapkan akan merangsang perekonomian negara-nega­ra yang sedang berkembang lewat sistem pasar bebas yang saling terhubung dan kompetitif. Tak heran bila globalisasi dipercaya akan mampu mem­bawa kemaslahatan pada segenap umat manusia di dunia.

Sebuah niat yang kedengarannya cukup mulia memang. Dan sejak diterapkan pada era 80-an, globalisasi menjadi sistem ekonomi (mencakup juga aspek sosial, budaya, dan komunikasi) yang populer di banyak negara. Tak terkecuali bagi negara kita tercinta yang kala itu berada di bawah rezim Orde Baru.

Tapi dengan adanya krisis global ini, untuk pertama kalinya kita disa­darkan, betapa sistem globalisasi yang tengah dipraktikkan keban­yakan negara saat ini, ternyata juga berpotensi membawa umat manu­sia pada krisis berkepanjangan. Ditambah lagi betapa globalisasi ekonomi dunia kian hari kita lihat semu dan banal, yakni di mana triliunan dollar AS diperjualbelikan dan dipermainkan di pasar modal, tetapi hanya sebagian saja diantaranya yang benar-benar menyentuh sektor riil.

Dengan kondisi kesalingterhubungan dan kesalingbergantungan inilah globalisasi ekonomi menciptakan budaya ekonomi sebagai jaringan terbuka (open network) yang rawan terhadap kemacetan di suatu titik jaringan dan serangan virus ke seluruh jaringan. Serangan virus (semisal kemacetan likuiditas) di sebuah titik jaringan (seperti AS) dengan cepat menjalar ke seluruh jejaring global tanpa ada yang tersisa.

Maka di titik ini pulalah kita sadar betapa Indonesia sebagai salah satu peserta yang turut serta dalam sistem ekonomi global, cukup rentan terkena dampak krisis ini.

Yang Bisa Kita Lakukan
Sejatinya, krisis global ini memang lebih banyak berpengaruh pada industri keuangan, khususnya pasar modal. Ruang gerak pasar modal itu sendiri belum meluas bagi usaha dan bisnis yang dijalankan bagi kebanyakan masyarakat Indonesia.

Bisa disimak bahwa roda perekonomian di Kota Bogor sendiri lebih banyak digerakkan oleh sektor riil dan usaha kecil menengah (UKM). Kebanyakan dari mereka menjalankan usaha yang tak memiliki persinggungan langsung dengan investor, juga dikerjakan oleh SDM dari dalam negeri sendiri.

Karenanya, kita selaku warga Bogor patut menjadikan peristiwa krisis global saat ini sebagai momentum dalam mendukung segenap pelaku bisnis dan UKM kota Bogor. Sebab, sejarah negeri ini telah membuktikan bahwa para pelaku bisnis dan UKM-lah yang mampu bertahan ketika krisis menerpa Indonesia di tahun 1998.

Dan kepada merekalah kita bisa berharap krisis global kali ini takkan mampir ke Indonesia.

0 Comments:

ayo gabung di KMB . . .

Subscribe to menulis_bogor

Powered by us.groups.yahoo.com

 

blogger templates 3 columns | Make Money Online