sini biar kubantu cari

AWAS!!! BAHAYA LATEN INTERNET BAGI OTAK ANDA// AWAS!!! BAHAYA LATEN INTERNET BAGI OTAK ANDA// AWAS!!! BAHAYA LATEN INTERNET BAGI OTAK ANDA// AWAS!!! BAHAYA LATEN INTERNET BAGI OTAK ANDA// AWAS!!! BAHAYA LATEN INTERNET BAGI OTAK ANDA// AWAS!!! BAHAYA LATEN INTERNET BAGI OTAK ANDA// AWAS!!! BAHAYA LATEN INTERNET BAGI OTAK ANDA//

16 Desember 2008

Sekedar Catatan Akhir Tahun

Photobucket

Ekonomi Kreatif sebagai Industri Budaya
Menjanjikan di Masa Depan

oleh Pry S.


Ada kejadian yang tak biasa pada 10 – 12 Desember kemarin di kota Bogor. Sekitar 500 budayawan dan seniman dari seluruh Indonesia ujug-ujug kumpul di Hotel Salak Bogor. Hadir pula sejumlah pemimpin media massa, aktivis LSM serta para pejabat tinggi republik semisal Menko Kesra Aburizal Bakrie dan Menteri Kebudayaan dan Pariwista Jero Wacik. Ada apa rupanya?

Ternyata di tempat inilah, Kongres Kebudayaan Indonesia 2008 digelar dengan mengusung tema ‘Kebudayaan untuk Kemajuan dan Perdamaian Menuju Kesejahteraan’. Tak kurang dari 16 tema dibahas pada acara tersebut, antara lain kebijakan dan strategi kebudayaan, film dan seni media, warisan budaya, sastra, hak atas kekayaan intelektual (HAKI), pendidikan, media massa, seni pertunjukan, ekonomi kreatif dan industri budaya.

Sungguh-sungguh sebuah hajat istimewa, dan patut dibanggakan bahwa Kota Bogor kita yang tercinta ini berkesempatan menjadi tuan rumah Kongres Kebudayaan Indonesia kali ini.

Yang justru menarik adalah wacana yang didiskusikan pada acara itu, yakni bagaimana menempatkan budaya sebagai ‘mata uang’ baru dan deposit tambang potensial demi kesejahteraan bangsa Indonesia.

Lebih menarik lagi ketika terungkap bahwa pemerintah juga telah meluncurkan cetak biru (blue print) ekonomi kreatif Indonesia sampai tahun 2030.

Yakni sebuah konsep ekonomi baru yang berorientasi pada kreativitas budaya, serta warisan budaya dan lingkungan. Cetak biru tersebut akan memberi acuan bagi tercapainya visi dan misi industri kreatif Indonesia 30 tahun ke depan.

Tak Sekedar Retorika
Bagi kebanyakan kita, gagasan di atas mungkin bakal terkesan sekedar retorika para elit dan pihak tertentu yang katanya mengaku peduli dengan kemajuan bangsa ini. Toh pada kenyataannya, di peralihan tahun menuju 2009 ini wajah Indonesia kita masih diramaikan dengan berbagai persoalan nasional yang seakan tiada leka-lekanya datang menimpa.

Setelah krisis AS yang berimbas pada lesu perekonomian dunia dan tak terkecuali Indonesia, memang sudah sepatutnya kita merapatkan barisan untuk mencari cara bagaimana menggairahkan kembali roda perekonomian masyarakat kita. Dan kali ini kita memilih strategi kebudayaan sebagai ujung tombaknya.

Yang sekarang menjadi pertanyaan adalah, bagaimana sesungguhnya apresiasi masyarakat kita selama ini terhadap warisan budaya bangsa? Sebab kita tidak perlu menutup mata bahwa kebanyakan masyarakat kita lebih silau pada kebudayaan asing dari Barat daripada warisan budaya negeri sendiri. Derasnya arus globalisasi memang memungkinkan krisis identitas kebudayaan semacam ini.

Lalu yang terpenting juga, dapatkah kreativitas budaya bakal tumbuh menjadi bagian dari industri yang mapan dan menjanjikan di masa depan? Sebab kenyataan yang terjadi hingga sekarang, berbagai kegiatan budaya masih ditempatkan sebagai ajang seremonial atau hobi semata, dan belum dipandang sebagai peluang industri menguntungkan.

Dan betulkah misi menciptakan ekonomi kreatif lewat industri budaya ala Kongres Kebudayaan Indonesia 2008 itu tak sekedar retorika semata?

Industri Versus Budaya
Bicara soal ekonomi kreatif dan industri budaya di Indonesia, rasanya memang kita patut menyimak geliat pelaku bisnis yang tengah menggejala di sejumlah kota semisal Bandung dan Yogya. Di kota tersebutlah, industri berbasiskan kreativitas budaya tumbuh subur. Dengan mudahnya kita bisa menjumpai bisnis distro dan desain grafis, toko buku komunitas, panggung musisi indie lokal, pertunjukan teater dan tari, serta penerbitan buku dan ajang sastra yang begitu hidup.

Patut dicatat pula bahwa keba-nyakan pelaku bisnis tersebut berasal dari kalangan kaum muda. Mereka-mereka inilah yang menggerakkan ekonomi kreatif di kotanya dengan omzet masing-masing perusahaan yang tak bisa dipandang sebelah mata.

Di sana terbukti bahwa industri dan budaya mampu menemukan bentuknya untuk tidak saling berlawanan, namun berpadu dengan cerdas. Tak heran bila ekonomi kreatif benar-benar telah menggerakkan perekonomian masyarakat kota tersebut.

Sehingga memang benar adanya bila kita renungi lebih cermat, wacana ‘budaya sebagai mata uang baru’ menyiratkan semangat positif yang patut kita perhitungkan. Dan mulai sekarang kita bisa percaya, bahwa kreativitas budaya lokal di Kota Bogor dapat pula tumbuh jadi bagian dari industri yang mapan dan menjanjikan di masa depan.

Baca Selengkapnya..

Sembilan Rekomendasi Ode Kampung # 3

Para peserta Ode Kampung III: Temu Komunitas Literasi se-Indonesia 2008 bersepakat bahwa literasi adalah hak kunci untuk mendapatkan hak berekonomi, bersosialisasi, partisipasi politik dan pembangunan, khususnya dalam masyarakat berbasis pengetahuan.

Literasi merupakan kunci peningkatan kapasitas seseorang, dengan memberikan banyak manfaat sosial, di antaranya cara berpikir kritis, meningkatkan kesehatan dan perencanaan keluarga, program pengurangan angka kemiskinan, dan partisipasi warga negara. Literasi bukan hanya persoalan individu, tapi juga menyangkut persoalan komunitas dan masyarakat luas.

Literasi bukan sekadar melek huruf, tapi merupakan dasar penopang bagi pembelajaran di masa datang. Literasi memberikan piranti, pengetahuan dan kepercayaan diri untuk meningkatkan kualitas hidup, untuk lebih dapat memberikan kemungkinan berpartispasi dalam aktivitas bermasyarakat dan membuat pilihan-pilihan informasi yang akan dikonsumsi.

Untuk mewujudkan hal tersebut, peserta Ode Kampung mengajukan sembilan rekomendasi:


1. Mendesak pemerintah pusat untuk segera menyusun regulasi yang lebih teknis terkait dengan UU no 43 tahun 2007 tentang perpustakaan.
2. Mewajibkan Pemerintah daerah untuk membangun perpustakaan yang representatif, meningkatkan pelayanan yang optimal dan menyediakan tenaga pengelola perpustakaan yang profesional.
3. Menjalin kemitraan antara perpustakaan daerah dan perpustakaan komunitas. Serta membangun kerjasama antara perpustakaan komunitas lokal dan daerah lainnya
4. Mewajibkan lembaga pendidikan dan lembaga pemerintahan yang memiliki perpustakaan agar memberikan pelayanan bagi masyarakat luas.
5. Mewajibkan pengembang komplek perumahan/ pengelola pusat perbelanjaan untuk membangun perpustakaan sebagai bagian dari fasilitas umum
6. Mewajibkan penerbit menyumbangkan buku-buku kepada perpustakaan komunitas dan mengadakan peluncuran buku terbaru serta pelatihan menulis bersama para penulis buku.
7. Mendorong warga masyarakat untuk mendirikan perpustakaan komunitas di setiap desa/ kelurahan.
8. Mewajibkan perusahaan mengalokasikan tanggungjawab sosial perusahaan (Corporate Social Responsibility) untuk perpustakaan komunitas.
9. Menumbuhkan kebiasaan membaca dengan menyediakan bahan bacaan di lingkungan keluarga, lembaga pendidikan, dunia kerja, instansi pemerintah, tempat ibadah dan fasilitas umum lainnya.

Demikian sembilan rekomendasi ini diajukan kepada khalayak. Semoga mendapat dukungan dari semua elemen terkait demi mewujudkan kejayaan Indonesia di masa mendatang.


Tim Perumus,
Gola Gong, Wien Muldian, Firman Venayaksa, Kiswanti, Halim HD, Subhan, Amel, Mahmudin, Ariful Amir.

Komunitas/ Yayasan/ Penerbit/ Rumah Baca/ TBM yang menyuarakan dan mendukung rekomendasi ini:

1. Rumah Dunia (Serang)
2. Forum Indonesia Membaca (Jakarta)
3. 1001 Buku (Jakarta)
4. Forum Lingkar Pena (Jakarta)
5. KKS Melati (Jakarta)
6. Perahu Baca (Tangerang)
7. Warabal (Bogor)
8. Tatas Tuhu Trasna (Lombok)
9. Forum Pinilih (Solo)
10. Kandank Jurank (Tangerang)
11. Forum TBM (Jakarta)
12. Jala Pustaka (Pekalongan)
13. Nurani Dunia (Jakarta)
14. Tunas cendikia (Jakarta)
15. Zhaffa (Jakarta)
16. Lereng Medini (Kendal)
17. Textour (Bandung)
18. Asiatul Jannah (Cilegon)
19. Pendar Pena (Depok)
20. Lentera Kalbu (Pandeglang)
21. Rumah Tukik (Anyer)
22. Ratu Bagus (Serang)
23. Kebon Sastra (Serang)
24. Kubah Budaya (Serang)
25. Pondok Maos (Kendal)
26. Cahaya Lentera (Bandung)
27. Sanggar Daerah Pinggir Rel (Jakarta)
28. Ibnu Hajar (Magelang)
29. Kampung Apung (Jakarta)
30. Sakinah (Tangerang)
31. Biblio (Jogjakarta)
32. Teras Puitika (Banjar Baru)
33. Histeria (Semarang)
34. Aura Books (Pandeglang)
35. Sanggar Sastra Serang (Serang)
36. Tifa (Bekasi)
37. Perpustakaan Fisip Unair (Surabaya)
38. Cermin (Tasikmalaya)
39. Pondok Maos guyub (kendal)
40. Si Bagong (Purbalingga)
41. Sygma Publishing (Bandung)
42. Mizan (bandung)
43. Salamadani (Bandung)
44. Agromedia (Jakarta)
45. Kramat Jaya (Pandeglang)
46. Berkah Saluyu (Pandeglang)
47. Angsana (Pandeglang)
48. Attaqwa (Pandeglang)
49. Alfattah (Tangerang)
50. Komunitas Penulis Jakarta (Jakarta)
51. WaTas Media (Banjarmasin)
52. Forum Komunikasi Teater Banjarbaru (Kalimantan)
53. Enigma Community (Kalimantan)
54. Kelompok Studi Sastra Banjarbaru (Kalimantan)
55. Sanggar Matahari Martapura (Kalimantan)
56. Arjasari (Bandung)
57. Kandangpati (Sumatra)
58. Teater Lakon (Bandung)
59. Komunitas Bunga Matahari (Jakarta)
60. Jaringan Rumah Usaha (Semarang)
61. Bike To Work (Jakarta)
62. Ajar Meteseh (Kendal)
63. Ruang Sunyi (Bandung)
64. Baitul Hamdi (Menes)
65. Al-Muna (Menes)
66. Maritim (Pandeglang)
67. Visi Bangsa (Serang)
68. Bina Imu (Pandeglang)
69. Tunas Bangsa (Pandeglang)
70. Nina’s Creative Centre (Pandeglang)
71. Wacana (Jakarta)
72. Penulis lepas (Jakarta)
73. Rumah Cahaya (Depok)
74. Reading Bugs (Jakarta)
75. Matahari (Bogor)
76. Yayasan Aksara Angka (Bandung)
77. Perpustakaan Istiqomah (Jakarta Selatan)
78. TBM Sijabrik Palmeriam (Jakarta Timur)
79. wisata-buku. com
80. Penerbit SUHUD Sentrautama (Serang)
81. Yayasan Al-Khairati (Tangerang)
82. Komunitas Coretan ( Bogor )
83. Milis wongbanten
84. Kopi Sastra (Bogor)
85. Kafe Baca Biblioholic (Makasar)
86. Pondok Dadapan (Citayam)
87. Tetater UI (Depok)
88. LP2A Kasih (Makasar)
89. Forum Pinilih (Solo)
90. Lembah Pring (Jombang)
91. Sanggar Sastra Ndesa (Banyumas)
92. Rumah Sastra Langit Timur (Jogjakarta)
93. Bimbel Dzikra Prestatif (Bandung)
94. Dzikra Library (Bandung)
95. Penerbit Lentera Hati (Ciputat)
96. Penerbit Buah Hati (Tangerang)
97. Perpustakaan PPLH (Bali)
98. Rumah Baca Albiruni (Bogor)
99. Perpustakaan Politeknik Manufaktur Negeri (Bandung)
100. Yayasan Pakta (Jakarta)
101. Gempa (Makalengka)
102. Insan Baca (Surabaya)
103. Perpustakaan Medayu Agung (Surabaya)
104. Perpustakaan Pelangi Pusdakota Ubaya (Surabaya)
105. Taman Bacaan Kawan Kami (Surabaya)
106. Pondok Baca Bocah (Surabaya)
107. Taman Baca Anak Sholeh Fadhli dan Perpustakaan Ummi Fadhilah (Surabaya)
108. Sanggar Anak Lengger (Surabaya)
109. Rumah Baca Az-Zahra (Surabaya)
110. Kedai Baca Walhi (Surabaya)

Kepada Yayasan/ komunitas/ Taman Baca/ penerbit dll yang hendak mendukung sembilan rekomendasi ini dapat mengirim email ke: odekampungtiga@ gmail.com untuk diskusi lebih lanjut, bisa mendaftar di email: komunitas_literasi- subscribe@ yahoogroups. com

Baca Selengkapnya..

KMB di Harian Radar Bogor

Pada 16 November lalu telah digelar Diskusi Reguler Komunitas Menulis Bogor dengan Tema ‘Menggeliatkan Budaya Literasi Lokal’ (lihat posting notes sebelumnya).

Berikut ini liputan salah satu kawan KMB Pak Affandi Kartodihardjo yang termuat di Harian Radar Bogor Edisi Minggu 23 November 2008:


Catatan dari Diskusi Literer Lokal KMB
Yang Terucap Menguap, yang Tertulis Bisa Kekal


“Jika disuruh milih antara menonton atau membaca, pasti banyak yang lebih memilih nonton. Untuk nonton ini, banyak yang mampu duduk berjam-jam di depan televisi, sementara kalau membaca, tidak lebih dari 15 menit mata sudah berat. Ngantuk!”

Itulah realitas kehidupan masyarakat Indonesia. Begitu juga dengan aktivitas keseharian. Banyak yang mampu ngobrol berjam-jam. Cerita yang satu disambung dengan cerita lainnya. Semuanya lancar dan mengalir begitu saja. Tapi kalau disuruh menulis, baru beberapa kalimat sudah macet. Padahal, yang diobrolkan atau yang diucapkan itu gampang sekali menguap, sementara yang tertulis itu, meski hanya beberapa kalimat bisa kekal bahkan bisa terangkai dalam sebuah karya bermutu.

Simak saja karya Andrea Hirata dengan Laskar Pelangi-nya. Meski mengangkat masalah di tingkat lokal, tapi hasilnya bisa dinikmati secara nasional. Kisah tentang anak-anak miskin di Belitung yang berjuang keras untuk pendidikannya itu mampu menjadi novel yang paling laris di pasaran. Bahkan, saat cerita dari novel itu diangkat ke layar lebar sekalipun, filmnya tetap laris.

Karya tersebut membuktikan bahwa produk literasi lokal bukan karya kacangan, tak bermutu apalagi tidak komersil. Keberhasilan Andrea Hirata dalam mengemas pengalaman masa kecilnya itu harus menjadi contoh penulis lain untuk mendokumentasikan kondisi sosial budaya sesuai dengan zamannya. Dengan harapan, di masa depan karya tersubut bisa menjadi warisan literatur sejarah.

Orang bijak sering mengatakan kalau apa saja cerita yang terucap itu bisa menguap, sementara yang tertulis bisa kekal. Karya penulis lokal yang mampu menggambarkan kondisi sosial budaya bisa menjadi dokumen sejarah yang nilai-nilai filosofi di dalamnya dapat bermanfaat bagi generasi muda di masa yang akan datang.

Dari Sabang sampai Merauke Indonesia memiliki beragam kebudayaan dan setiap daerah memiliki tradisi literasi yang telah berkembang secara turun temurun. Tradisi inilah yang perlu dijaga oleh komunitas literasi lokal agar tidak tergerus oleh banjir literasi global.

Ajakan untuk membangkitkan literasi lokal tersebut mengemuka dalam diskusi yang diselenggarakan oleh Komunitas Menulis Bogor (KMB) di Toko Buku Alternatif Jendela Jl Cikabuyutan Baranangsiang Bogor. Beberapa penulis Bogor hadir dalam pertemuan tersebut, diantaranya adalah O Solihin pimpinan Gaulislam yang dikenal dengan puluhan bukunya, Gatot Aryo penulis Mimpi Bulan, Novelis Asri Probosinta, Nosa Normanda pengamat budaya dan komunitas sastra serta Pry. S yang bertindak sebagai moderator dan puluhan peserta lainnya.

Komunitas-komunitas menulis lokal harus menjadi pioner di tingkat nasional. Negeri ini masih mendambakan penulis-penulis sekaliber Umar Kayam yang mampu menggambarkan realitas masyarakat Indonesia, atau penulis fiksi sejarah sehebat Pramoedya Ananta Toer yang begitu dalam menceritakan masalah sosial di tingkat lokal dengan segala bentuk kompleksitasnya.

Untuk itu, budaya masyarakat yang lebih suka nonton, sedikit demi sedikit harus diubah. Dan, untuk mengubahnya perlu upaya yang serius. Sebab, harus diakui kalau saat ini masyarakat kita lebih suka ngobrol ketimbang membaca. Mereka lebih suka menghabiskan uang untuk membeli hp terbaru dan pulsa ratusan ribu sebulan dibanding membeli buku atau mengoleksi bacaan. (Affandi Kartodihardjo)

Baca Selengkapnya..

ayo gabung di KMB . . .

Subscribe to menulis_bogor

Powered by us.groups.yahoo.com

 

blogger templates 3 columns | Make Money Online